Belajar Darimu Kartini!


Tiap Kondisi Melahirkan Pahlawannya: Begitu juga Kartini

Bung Karno menginspirasi “JAS MERAH (JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH)”. Sejarah penting, sebagai bahan untuk menyelesaikan krisis di masa ini. Kehidupan ini seperti siklus yang suatu saat akan berputar kembali ke masa itu. Sayang sejarah di negeri ini milik orang-orang berkuasa, fakta- fakta sejarah kadang sangsi untuk diaminkan. Seperti peristiwa Supersemar dan bisa jadi terhadap kisah-kisah pahlawan di negeri ini, Ki Hajar Dewantara, Pattimura termasuk Kartini. Ah, menyedihkan menjadi generasi yang gagap sejarah!

Berangkat dari sebuah krisis. Saat dimana perempuan, tidak bisa merasakan haknya. Hak berpendidikan. Lahirlah tokoh yang sekarang dicatat sejarah sebagai pahlawan emansipasi perempuan, Kartini. Mungkin saat itu, Kartini sudah paham bahwa perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Kualitas ibu menentukan juga kualitas anak dan mereka adalah generasi penerus bangsa ini. Ada ungkapan visioner “generasi hari ini, menentukan nasib bangsanya di masa depan”.

Percaya bahwa tiap kondisi krisis akan melahirkan tokoh atau pahlawannya. Rasulullah SAW hadir , saat kondisi jahiliyah memuncak. Di negeri ini, saat butuh kemerdekaan muncullah Bung Karno dan Bung Hatta, saat perempuan merasakan hak belum terpenuhi munculllah Kartini, saat negeri ini butuh reformasi muncullah Amien Rais. Di tengah, kondisi korupsi, kolusi dan nepotisme yang merajalela di negeri ini pasti akan muncul sosok yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Bisa jadi kita adalah tokoh yang dilahirkan dari kondisi ini.

Mereka yang tercatat sejarah adalah mereka yang membawa perubahan. Ada juga pembawa perubahan yang tidak tercatat sejarah. Seperti perobek bendera Belanda yang kemudian menjadi merah putih di Surabaya. Atau saat zaman tabi’in, dikisahkan oleh Muhammad ibn Al Munkadir, kala itu kota Madinah belum turun hujan. Seluruh penduduk kota melaksanakan shalat Istisqa’ tapi hujan belum turun. Di sepertiga malam, shahibul hikayat ke masjid untuk bermunajat dan ada seseorang juga yang bermunajat untuk meminta diturunkan hujan di negeri Haram itu. Beberapa saat kemudian, turunlah hujan. Subhanallah. Beliau mencari orang yang doanya sangat makbul itu, ketika menemukan rumahnya. Beliau berkata “Bukankah engkau yang bersamaku di masjid kemarin malam itu?” tanpa diduga, wajah pria itu Nampak sangat marah kemudian berkata “Apa urusanmu dengan semua itu, wahai Ibn Al Munkadir??!”. Keesokan harinya, beliau tak melihat pria itu di masjid dan rumahnya telah kosong. Ada orang-orang seperti ini, tak mau dikenal meski ia telah berbuat kebaikan dan membawa perubahan. Biarlah, hanya Allah yang mengenalku.(Al Madany, 2006:103)

Kartini memang lebih terkenal dibanding Raden Dewi Sartika atau Rohana Kudus tapi yakin semua membawa perubahan untuk bangsa ini. Berhusnudzon, Kartini yang lebih familiar di masyarakat adalah karena semua perjuangan beliau terdokumentasikan. Ada surat-surat kepada teman-temannya di Belanda. Unik. Menulis. Belum pernah (atau mungkin tidak tau) ada perempuan di zaman itu yang menulis dan sampai ke Belanda. Ide-idenya tersampaikan dan kemudaian membawa perubahan. Sekali lagi menginspirasi untuk menulis apapun yang dilihat, didengar dan dirasakan. Kadang berdiskusi dengan orang yang berbeda background, budaya ataupun agama akan menemukan perspektif yang berbeda dan bisa menambah khasanah berpikir kita. Mendengar dari siapa saja, bukankah Rasulullah SAW pernah berkata ambillah pelajaran dari siapa saja meskipun dari seorang budak hitam legam?

Kartini dan Emansipasi Perempuan

Di negeri ini hari kelahiran Kartini, 21 April, selalu diperingati tapi sayangnya hanya identik dengan kebaya. Karnaval anak sekolah atau tiap acara pakai kebaya termasuk acara di televise. Ah, ini Hari Kartini atau Hari Kebaya! Momentum hari Kartini sangat identik dengan emansipasi perempuan. Kaum feminis di negeri ini, memaknai emansipasi sebagai semangat kesetaraan gender. Terlebih mereka ingin melegalkannya dalam hukum Negara, sedang menarik untuk dibahas Rancangan Undang-Undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG).

Ingin sekali rasanya menghadirkan Kartini dan mengkonfirmasi emansipasi perempuan yang dimaksud itu seperti apa? Hanya khayalan. Sekarang masing-masing kepala dari kita mulai memaknai emansipasi perempuan itu. Dari kutipan salah satu surat Kartini :

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, BUKAN SEKALI-SEKALI KARENA KAMI MENGINGINKAN ANAK-ANAK PEREMPUAN ITU MENJADI SAINGAN LAKI-LAKI DALAM PERJUANGAN HIDUPNYA. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

Jelas perjuangan Kartini bukan untuk menyetarakan gender, justru karena paham akan peran dan tanggungjawabnya yang utama sebagai perempuan maka dibutuhkan kapasitas yang sesuai. Ibu sebagai pendidik pertama untuk anak-anaknya akan lebih berkualitas jika berpendidikan juga. Layaknya teko, ia dapat mengalirkan air yang segar jika diisi dengan air segar juga.

Perkembangan zaman kemudian menuntut perempuan untuk berperan juga di sector public. Rasulullah SAW dan para shabiyah pun telah mencontohkan, merekapun mengizinkan. Ummu Athiyah berkata, “Saya ikut dalam peperangan bersama Rasulullah SAW sebanyak tujuh kali. Saya tinggal di barak-barak mereka, lalu saya membuat makanan untuk mereka, mengobati yang terluka dan merawat yang sakit” (HR Muslim) juga kepemimpinan Aisyah pada Perang Jamal meskipun ada realitas yang tak baik. Itu bukan karena ia sebagai perempuan tapi karena kesalahan strategi politik.

Secara biologis laki-laki dan perempuan jelas berbeda, terkait peran dan tanggungjawabnya Rasulullah SAW pun tak melarang perempuan berperan di sector public. Akan lebih mudah memahami masalah ini dalam kacamata determinasi peran yang dilakukan dengan prinsip keadilan oleh Allah SWT, bahwa antara laki-laki dan perempuan perlu ada penataan posisi. Setiap peran tidaklah lebih rendah dibandingkan dengan yang lainnya. Kalaupun seorang perempuan memilih menjadi ibu rumah tangga, pendidik generasi, dan tidak bekerja di sector public, hal itu bukanlah pekerjaan ringan yang bisa dianggap rendah atau sambilan. Ketika ia memilih peran tersebut dalam konteks ketinggian martabatnya, maka itu adalah bentuk kemerdekaan yang tak bisa disalahkan(Takariawan,2003:104)

Sekadar Penutup

Sepakat bahwa Rasulullah SAW adalah suri teladan yang baik, diperjelas di al quran Surah Al Ahzab. Tak ada satupun tokoh sejarah yang riwayat hidupnya, tindak-tanduknya, ucapannya cara hidupnya, seluruh pernik kesehariannya tercatat selengkap beliau. Bahkan catatan itupun dilengkapi dengan seteliti mungkin, dibersihkan dari praduga, kira-kira dan segala syak wasangka. Dan andai kita pernah membohongi ayam, kambing, atau unta dengan, “kur..kur…kur…!” misalnya, Imam Bukhari ataupun Imam Muslim bin Hajjaj akan mencoret nama kita dari daftar orang dipercaya periwayatannya oleh beliau (Fillah, 2004:13).

Ketika kaum feminis memanfaatkan hari Kartini untuk memperjuangkan pemikirannya maka kita juga harus lebih memanfaatkan momentum ini untuk melawan pemikiran kaum feminis itu. Tiap orang menginspirasi, dari seorang tukang batupun maka tak salah kalau terinspirasi dari Kartini. Dengan syarat tak mengagung-agungkannya. Hari kelahiran para pahlawan sering kali dijadikan sebagai hari nasional seperti Hari Kartini dan Hari Pendidikan atas kelahiran Ki Hajar Dewantara, sama sekali tak bermaksud untuk mengagung-agungkan mereka apalagi menyandingkan mereka dengan Rasulullah SAW dan para shahabah dan shahabiyah. Naudzubillah. Hanya memanfaatkan momentum, hanya belajar menjadi negarawan.

Karena judulnya adalah belajar maka bisa jadi salah. Hakikatnya belajar, berubah dari tidak tau menjadi tau, memperbaiki kesalahan dan senantiasa mencari kebenaran. Berusaha belajar ketika bertemu apa dan siapa saja serta ketika singgah dimana saja. Wallahu a’lam bi ash shawab. Hanya Allah Pemilik Kebenaran Hakiki.

Inspiried by

Tatsqif “Kenapa Harus Kartini?”Ust Sriyanto. Ahad, 22 April 2012 di Masjid NU

Al Madany, Abul Miqdad. 2006. Kerinduan Seorang Mujahid. Jakarta :Mirqat Publishing

Fillah, Salim A. 2004. NPSP. Yogyakarta : Pro U Media

Takariawan, Cahyadi. 2003. Fikih Politik Perempuan. Solo : Era Intermedia

http://www.hidayatullah.com/read/22292/20/04/2012/antara-kartini-dan-sayidah-aisyah.html

http://era90.blogspot.com/2010/04/sejarah-kartini-habis-gelap-terbitlah.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s