Calo!


Dari tiap kejadian kita belajar, seperti saat ini saya belajar bagaimana dari tempat acara ini, di Depok untuk bisa pulang ke Purwokerto. Berbekal hasil smsan dengan kawan , di dapatlah info kalau mau ke Purwokerto naik bis dari Terminal Kampung Rambutan. Terminal terdekat yang ada bis dengan tujuan ke Purwokerto. Kampung Rambutan, salah satu terminal di Jakarta. Tepatnya Jakarta Timur. Meski tinggal di Jakarta Timur tapi saya belum pernah naik kendaraan umum dari sini. Karena emang jauh dari rumah, sekadar info rumah saya di daerah Cakung Jakarta Timur. Cakung lebih dekat ke Bekasi kalau Kampung Rambutan lebih dekat ke Depok.

Saya bersama dua kawan saya, semuanya perempuan merasa asing.bingung. Belum pernah ke sini, letak loket bis saja belum tau. Maka yang ditakutkan, di terminal besar seperti ini adalah : Calo !. itu juga alasan saya, kenapa ketika balik ke Purwokerto tidak pernah naik bis dari Terminal Pulogadung tapi lebih memilih dari Terminal Rawamangun. Benar saja, ketika turun dari angkot 112 jurusan Depok-Kampung Rambutan, ada laki-laki yang bertanya mau kemana. Dan saya identifikasi dia, adalah calo. Saya menasehati diri sendiri : hati-hati fit!. Saya tidak menjawab pertanyaan orang itu, entah siapa namanya, ga kenalan siih..hahaha .. Ditanya terus mau kemana?

Ya sudahlah, saya jawab dengan malas ” Purwokerto” .

lalu datang lagi, laki-laki yang saya identifikasi juga sebagai calo. Bertanya lagi, mau kemana. Lagi, saya hanya diam dan yang jawab pertanyaan itu adalah laki-laki pertama tadi. Oke, laki-laki yang saya identifikasikan sebagai calo,sekarang sebut saja sang Calo. Menghujani saya dengan banyak pertanyaan : ”Purwokertonya turun dimana mba?””

berapa orang yang ke purwokerto?” ”mau naik bis ini (dia menyebutkan salah satu merk bis)?” . Sangat tidak nyaman sekali. Langsung saya bentak :” Mas!” sambil menunjukan ketidaksukaan.

Salah satu dari mereka bilang, ”Udah kalo ada yang nanya-nanya , ga usah dijawab mba” .

Dalam hati saya bilang,” Perasaan gue juga kagak pernah jawab pertanyaan-pertanyaan lo deh ”. Di depan pintu masuk terminal ternyata bayar retribusi Rp.1000. baru kepikiran di bis, ko ga dapet karcis retribusi ya?? Dulu di Terminal Purwokerto yang hanya Rp.200 saja saya minta karcisnya.. Pernah ya, saya sempat tidak diberi karcis retribusi oleh petugas, saya bilang ” Pak, minta karcisnya”. Bapak petugas itu ngasih saya 5 karcis. Cuma bisa geleng-geleng kepala dah, tapi sekarang retribusi Rp.200 itu sudah dihilangkan. Entah tepatnya sejak kapan. Bukan pada bilangan rupiahnya yang penting, itu masih terjangkau. Tapi lebih pada menegakkan kedisiplinan dan transparansi peraturannya. Kalau tidak ada yang protes, mungkin petugas-petugas itu merasa nyaman-nyaman saja. Jadilah pungli dan praktik premanisme, bebas merdeka tumbuh di negeri ini hingga mengakar. Istigfar.

Sampai juga di dalam terminal, mulailah mencari loket. Ko sudah pada tutup ya? Jam di tangan menginformasikan sekarang sudah hampir jam 19.00 WIB. Calo itu nunjukin saya loket, tapi karena bingung saya milih duduk dulu. Datanglah, petugas salah satu agen bis. Kayaknya sih resmi, karena terlihat pakai seragam.

Bertanya lagi ” Mau kemana?’ dengan nada yang malas saya jawab ”Purwokerto”.

”Ya udah, itu ke loket aja. Mau naik kereta apa?” katanya Entah kenapa saat saya megang tiket kereta waktu saya berangkat

Saya jawab ketus, ”di terminal naik bis lah, masa naik kereta”

” ya itu loketnya”

” berapa harganya?”

”ya ke loket aja, masa nanya disini” kata bapak agen bis itu

Okelah, saya minta tolong kawan ke loket buat beli tiket itu. Karena yang megang uang itu dia. Pesan saya, kisaraan harga bis yang ditawarkan itu seharusnya Rp45.000-Rp.55.000. Saya duduk dan berdoa : moga Allah memperlancar saya pulang ke Purwokerto.

Sempet berpikir juga, kalau ternyata disini tinggal harga calo aja, saya balik ke rumah dulu. Kawan kembali ke saya tempat saya duduk, ” berapa harganya?” ”Rp.95.000” kata kawan ” buat dua orang?” ”satu” Dalam hati, wow banget nih harga paling mahal juga Rp.65.000. saya bilang ke kawan, ” ga usah aja, dikembaliin” ”udah bilang ga jadi, tapi disuruh duduk dulu” Lha, ada yang ga beres niih.. tiket udah di tangan tapi harga belum jelas. Setau saya yang ilmu ekonomi Islamnya masih dangkal, itu haram deh. Karena tidak ada akad yang jelas tentang harganya. Kalau satu tiket itu Rp.95.000 berarti kalau dua tiket Rp.190.000. perlu diketahui, uang yang tersisa tinggal Rp.150.000. kasihan yah..hehe.. nah, kalau pun deal itu Rp.40.000 dari mana? Sempet berpikir juga, kalau ternyata disini tinggal harga calo aja, saya balik ke rumah dulu. Jangan-jangan ada yang ga ridho saya pulang duluan, karena emang acara di Depok sebenarnya belum selesai. Izin pulangnya susah banget. Atau mungkin orang tua saya, karena ke Jakarta tapi ga pulang ke rumah. Ah, pikiran nano-nano!

Saya bilang ke kawan lagi, ”kembalin aja” Kawan saya ngembaliin tiket,setelah itu saya bilang ” duduk aja dulu” . saya berpikir dan berdiri, mencari loket yang masih buka. Alhamdulillah wa syukurillah, loket bis L***NA masih buka. Tadi saya liat loket itu petugasnya ga ada. Saya tanya ” Ke purwokerto, masih ada mba?’ ”masih” jawab mbanya ”berapa?’ ”Rp.65.000” ”oke, dua mba. Berangkat kapan?” ”Sekarang mba, itu bisnya di belakang”

Subhanallah sekali,nashrullah,pertolongan Allah. Saya panggil kawan, beli tiket dan langsung menuju bis. Calo itu ngeliatin saya, dalam hati bilang ”apa lo liat-liat gue’ hehe Perjalanan menuju bis, ada yang bilang ’ye, si mba ga percayaan banget” ”emang” lagi-lagi jawab dalam hati. Ga mau ribut aja siih. Bersyukur sekali padaMu, Ya Rabb… dihindari dari calo yang tidak berkeprimanusiaan itu. Kenapa saya bilang tidak berkeprimanusiaan? Calo itu termasuk tindakan kriminal. Bayangkan kawan, mereka mencari keuntungan di tengah kebutuhan mendesak seseorang. Harga tiket bisa mencapai dua kali lipat. Ada penumpang satu bis yang kena calo, dan membayar Rp.135.000. Entah kenapa, urusan calo ini ga pernah selesai sepertinya. Bukannya yang di terminal itu orang-orang lama, agen bis, calo dan aparat kepolisian. Tapi kenapa masih saja tumbuh subur praktek percaloan ini? Siapa yang harus disalahkan? Atau yang paling bertanggungjawab? Jangan-jangan, ada kongkalikong antara mereka. Tapi harapan ini selalu ada, agar praktek percaloan hilang sama sekali di bumi Indonesia. Bukan hanya di terminal tapi di tempat-tempat lain seperti stasiun, bandara, keiimigrasian atau bahkan di kelurahan.

Saat ada penumpang bis yang protes ke agen, hanya dibilang ” tiket ga pernah beredar, kalu beli itu di loket resmi. Kalau ga beli di loket berarti itu kesalahan penumpang. Kalau tidak terima, laporin aja ke polisi” Lha, trus pertanyaannya adalah ”kenapa tu tiket bisa beredar?logika saya, pastikan dapat dari agen” Laporin polisi? Mungkin kalau saya jadi penumpang korban calo itu akan bilang gini ” Ya elah pak, kita udah mau berangkat niih. Masa lapor polisi. Lama kali dan belum tentu dapat solusi langsung dan pastinya akan tambah ribet urusan”. rada hopeless ama kerja polisi Indonesia.

Para calo apa tidak berpikir ya? korban mereka adalah orang-orang yang sama seperti mereka, berjuang untuk hidup juga. Ego mereka sangat tinggi sehingga yang adalah ketidak pedulian pada sesama,prinsip mereka ”yang penting gue” . Berhati-hatilah di terminal asing,cari bekal informasi sebanyak-banyaknya dan tunjukan keberanian kita!!! Wallahu a’lam

Terminal Kampung Rambutan, 2 Desember 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s