Enni Waluyo (44), Pengusaha, Purwokerto, Berbisnis Ala Rasulullah SAW


Setiap kita singgah ke suatu daerah pasti yang kita inginkan adalah merasakan makanan khas dari daerah tersebut. Begitu juga bila kita singgah di Purwokerto, yang lidah kita inginkan adalah merasakan lezatnya tempe mendoan, getuk goreng atau tempe kripik yang menjadi kekhasan kuliner daerah ini. Kuliner khas Purwokerto itu bisa didapat di Malioboronya Purwokerto, Sawangan.
Ada satu toko yang terlihat berbeda, penuh dengan nuansa pink (merah muda). Banner yang dipasang di depan toko berwarna pink, karyawan-karyawannya pun berseragam pink dan setelah kita masuk ke dalam dinding dan rak-raknya pun berwarna pink. Pengunjung yang sedang singgah di Sawangan pasti akan langsung interest ke toko ini. Kesan pertama begitu menggoda kita untuk masuk ke dalamnya dan benar toko ini ebih ramai pengunjung daripada yang lainnya.
Siapa sangka pemilik dari toko oleh-oleh itu adalah seorang wanita tangguh, Enni Waluyo. Saat penulis kunjungi tokonya, yang beralamat di Jalan Jenderal Sutoyo No. 23 Purwokerto, ternyata beliau tidak ada di tempat. Setelah diberitahu alamat ibu Enni Waluyo oeh karyawan toko tersebut, penulis langsung bergegas meluncur kesana, Jalan Muh. Yusuf No.46 Penatusan.

Ayah menjadi Inspirasi
Adzan ashar baru saja berkumandang dari masjid-masjid. Setelah menunaikan shalat Ashar di masjid dekat rumah ibu Enni dan sedikit merapikan diri karena hujan yang turun cukup lebat, penulis akhirnya berada di rumah ibu Enni.
Rumah berwarna hijau, penuh dengan tanaman-tanaman terlihat asri mengasumsikan pemiliknya peduli akan lingkungan. Awalnya kami bertemu dengan anak dan khadimat (pembantu) beliau. Kami diminta masuk dan menunggu di ruang tamu karena ternyata ibu Enni sedang menunaikan kewajibannya shalat Ashar.
Tak ada kesan mewah saat memasuki rumahnya, beda dengan apa yang dibayangkan selama ini. Terlihat sangat sederhana, jauh dari kesan mewah. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya penulis bertemu dengan ibu Enni. Alhamdulillah, beliau menerima penulis dengan baik dan ramah. Beliau mengatakan, biasa berada di toko sampai sore, karena ini hari Jumat. Beliau pulang ke rumah untuk mengingatkan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat Jumat, hujan yang turun deras membuat beliau memutuskan untuk tetap berada di rumah tidak kembali ke tokonya.
Ibu dari tujuh anak ini,mulai menceritakan alasannya tertarik dengan bisnis ini. Beliau memang dibesarkan dari lingkungan yang dekat dengan dunia bisnis. Almarhum sang ayah merupakan pengusaha sepatu yang sempat merajai Purwokerto. Ayah beliau mulai menggeluti dunia bisnis sepatu sejak awal-awal tahun kemerdekaan. Terlihat dari banyaknya sepatu di ruangan sejenis garasi sebelum masuk keruang tamu. Usaha sang Ayah sempat mengalami pasang surut, saat sepatu-sepatu import mulai masuk ke Indonesia, seperti bata, nike dan carvil. Tetapi karena sudah memiliki langganan tetap usaha tersebut masih dapat bertahan. Kegigihan sang ayah untuk tetap berbisnis untuk membiayai 12 orang anaknya menjadi inspirasi ibu Enni untuk berbisnis. Awalnya beliau, diminta, untuk meneruskan bisnis sang Ayah,. Tetapi karena beliau lebih tertarik dengan bisnis makanan, karena menurut beliau makanan pasti banyak yang membutuhkan setiap hari. Makanan lebih bisa mengembangkan potensi daerahnya dan memberikan ciri khas pada koa itu.
Sabda Rasulullah, ”Sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu didapatkan dari perniagaan atau perdagangan”. Kata-kata Rasulullah itu selalu menjadi penyemangat beliau. Karena yakin itu merupakan janji Allah SWT juga. Setelah ditinggal sang suami, beliau berusaha untuk survive membesarkan ke enam anaknya. Untuk tetap bertahan bersaing dengan kompetitor lain, beliau selalu berusaha untuk melakukan inovasi-inovasi terhadap tokonya.
Prinsip beliau adalah menyediakan makanan yang halallan thoyibban dan membuktikan bahwa seorang muslim dan pribumi mampu untuk bersaing di dunia bisnis. Beliau sangat prihatin dengan banyaknya makanan-makanan import yang masuk ke Indonesia. Kesehatan dan kehalalannya belum terjamin.
Usaha beliau dimulai dari mendirikan toko dengan nama Maju Eco di Jalan Bank, kemudian seiring berjalannya waktu beliau mulai mengumpulkan modal untuk mendirikan usaha di daerah Sawangan. Toko-toko di sepanjang Sawangan adalah milik warga negara keturunan China atau Arab. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi beliau untuk menggeluti bisnis makanan ini. Karena kata beliau, orang-orang keturunan itu, terutama China, lebih memiliki keahlian untuk berdagang. Tapi justru itu yang menyulut semangat beliau untuk lebih baik lagi. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa ”Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China”. Kegemaran membaca dan pengalaman-pengalaman kesuksesan orang-orang China di Indonesia menjadi referensi beliau untuk mengembangkan usaha.
Beliau memilih usaha karena merasa kalau berbisnis kita bisa bebas untuk mengatur waktu, apalagi beliau adalah ibu dari enam orang anak yang harus memperhatikan perkembangan anaknya juga. Kalau kita jadi pegawai, kita sudah ditentukan gaji yang akan didapat tetapi kalau jadi pengusaha kita yang akan menentukan berapa yang akan kita peroleh. Tergantung usaha kita. Berbisnis, tambah beliau, urusannya langsung dengan Allah SWT karena kita mau curang atau jujur Allah SWT yang akan langsung melihat kita. Sedang kalau menjadi pegawai, kita ingin berbuat curang, korupsi misalnya, berhubungan dengan hukum yang dibuat manusia.
Berbisnis ala Rasulullah SAW
Setiap muslim harus kaya ,kata beliau, karena kemiskinan itu dekat dengan kekufuran (meninggalkan ajaran Allah SWT-red). Dengan begitu kita bisa membantu saudara-saudara kita dari lembah bernama kekufuran. Sebagai umat Rasulullah SAW yang taat, tentunya sangat baik ketika menjalankan segala sesuatunya berdasarkan apa yang diajarkan Rasulullah SAW agar kita sukses dunia akhirat. Rasulullah SAW adalah sosok pengusaha ideal di dunia ini. Itulah yang menjadikan ibu Enni untuk menjalankan bisnisnya dengan memegang teguh sifat-sifat utama Rasulullah SAW yakni shiddiq, amanah, tabligh dan fathonah.
Shiddiq artinya benar, dalam berbisnis kita harus menjalankannya dengan benar, dengan kejujuran, agar kita mendapatkan kepercayaan dari rekan bisnis kita. Seperti Rasulullah SAW, beliau mendapatkan gelar Al Amin (orang yang dapat dipercaya-red). Menurut beliau ,modal utama dalam berdagang bukan pada berapa besarnya uang yang kita miliki tetapi pada seberapa besar orang-orang percaya pada kita. Meskipun kadang, orang jahat memanfaatkan kejujuran yang kita miliki. Pengalaman buruk pernah beliau alami ketika berbisnis dengan seorang Sarjana Hukum yang me-supply kacang Bali, ia merubah faktur yang ada. Itu membuat beliau kecewa dan tidak ingin bekerjasama lagi. Meskipun produk orang itu banyak dicari konsumen, semoga menjadi pelajaran buat dia, kata beliau.
Amanah, kepercayaan, ketika berbisnis harus menjalankan prinsip-prinsip kejujuran, agar masyarakat konsumen tetap percaya pada kita dan tak beralih pada produk yang lain. Caranya adalah dengan tetap menjaga kualitas-kualitas bahan pembuatannya. Misalnya adalah tetap menggunakan minyak goreng, gula merah nomor satu. Meskipun harga-harga bahan pembuatannya dipasaran tetap naik, kualitas tidak diturunkan. Ibu yang mempunyai hobi main gita dan ngaji ini menambahkan, itulah yang terjadi pada pengusaha-pengusaha Indonesia ketika barang-barang naik kualitas turun. Sedangkan pengusaha-pengusaha lain, China misalnya, mereka tetap pada kualitas asalnya. Itu  juga yang menjadi alasan bagi ibu Enni, mengapa usahanya masih bisa bertahan sampai sekarang.
Tabligh, aplikasi dari tabligh dalam dunia perbisnisan adalah mengkomunikasikan apa-apa saja yang menjadi keunggulan dari produk kita dan apa saja yang harus dilakukan oleh konsumen agar produk kita tahan lama. Itu yang dilakukan ibu Enni terhadap tokonya, beliau coba menulis jenis-jenis produknya kemudian menempelkannya. Petunjuk-petunjuk dimana letak kasir, dimana letak tempe kripik. Menjelaskan kepada konsumennya bahwa getuk goreng itu tahan sampai tujuh hari, paling lama itu sepuluh hari.
Fathonah, sifat Rasulullah SAW yang satu ini artinya adalah cerdas. Kata ibu yang asli Purwokerto ini, kita harus cerdas dalam membaca situasi pasar. Kita harus tahu apa yang disukai oleh konsumen. Produk yang fresh lebih disukai oleh konsumen ketimbang produk yang dijadikan stok. Itu yang dilakukan oleh beliau, sehingga tak jarang konsumen-konsumen yang jauh dari Sawangan pun rela datang untuk mendapatkan produk-produk yang fresh.
Untuk tetap tumbuh inovasi-inovasi dalam bisnisnya, beliau sering konsultasi dengan teman-temannya yang sudah pakar di bidang bisnis, sharing bersama karyawan-karyawannya yang pernah bekerja pada pengusaha China ataupun Arab, membaca buku dan belajar dari pengalaman. Berbisnis itu mudah tapi membuatnya laris itu yang sulit.
Yang membuat berbeda selain tampilan tokonya yang serba pink, Tempe Kripik Sawangan No.1 ini juga menyajikan getuk goreng dengan berbagai macam rasa ada lebih dari lima rasa yang ditawarkan dan inovasi-inovasi itu akan terus dilakukan untuk tetap bertahan di dunia perbisnisan. Usaha untuk mendirikan cabang juga pernah dilakukan, beliau pernah berusaha membuat cabang di Bandung dan salah satu tempat di Purwokerto, tetapi beliau memutuskan untuk hanya memiliki satu toko saja. Menurut beliau kendalanya adalah karena sulit untuk mendapatkan orang yang terpercaya untuk mengelolanya.

BUDOL PD
Dalam melakukan bisnisnya ibu Enni Waluyo, memberikan kiat-kiatnya. Kunci kesuksesan beliau sekarang yang omzetnya 500 – 1000 tempe perhari serta satu kuintal getuk goreng. Menurut beliau dalam berbisnis itu yang penting BUDOL PD. BUDOL PD merupakan akronim dari Berani, Ulet, Duit Orang Lain, Profesional, Doa.
Berani, beliau mengatakan kadang orang takut untuk memulai usaha. Padahal dengan modal berani kita bisa menjalankan sebuah usaha. Berani menanggung risiko dan tentunya berani untuk memulai. Karena kalau tidak dimuali dari sekarang kapan lagi. Ulet, dalam setiap usaha tak ada yang instan, semua harus melalui suatu proses.pasang surut dari usaha yang dilakukan adalah hal yang biasa Duit Orang Lain, bermodalkan kepercayaan kita bisa menjalankan bisnis dengan modal dari orang lain. Profesional, meskipun kita mendapatkan kepercayaan dari orang telah kita kenal, bisnis yang dilakuakn harus tetap dijalankan dengan profesional. Doa, semua yang kita lakuakan belum tentu berhasil jika yang Maha Berkehendak tidak menghendaki, karena senjata seorang muslim adalah berdoa. Doa seharusnya diawal, tambah beliau.

Beliau merasa bersyukur usahanya bisa dikatakan berkembang. Bahkan bila diperingkatkan dari toko-toko sekitar Sawangan. Toko Sawangan No.1 adalah terbesar kedua setelah Toko Eco, yang ternyata milik kakak beliau. Motto beliau adalah khoirunnas anfauhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Sejak memulai usahanya 17 tahun lalu, beliau menginginkan dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Beliau mempunyai keinginan untuk membuka usaha konveksi di kawasan Gang Sadar, karena beliau meras selama ini pemerintah dan para aktivis-aktivis hanya memberikan data-data saja. Tanpa melakukan sebuah aksi solusi untuk menutup Gang Sadar, yang kita ketahui bersama Gang Sadar merupakan pusat prostitus di Purwokerto. Beliau sadar, tak bisa sembarangan saja untuk menutupnya diperlukan sebuah solusi. Solusi itu harus dilakukan bersama-sama. Tak hanya sekadar memberikan lapangan pekerjaan tapi juga membina mereka agar tak kembali ke jalan masa lalunya.

2 thoughts on “Enni Waluyo (44), Pengusaha, Purwokerto, Berbisnis Ala Rasulullah SAW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s