Fi Afaqit Ta’lim Dirasah fi Da’watil Ustadz Hasan Al-Banna wa Nazhariyatil Harakah fiha min Khilali Risahalatii Ta’lim (Membina Angkatan Mujahid Studi Analitis Atas Konsep Dakwah Hasan Al-Banna dalam Risalah Ta’lim)


A. HASAN AL-BANNA PELETAK TEORI GERAKAN ISLAM KONTEMPORER

Al-Islamu Ya’lu wa La Yu’la ‘Alaih (Islam itu tinggi dan tidak ada yang melebihi ketinggiannya).

Dalam perjuangan dakwahnya, Hasan Al-Bana memadukan hukum-hukum syariat dengan tuntutan zaman, antara cita-cita melangit seorang muslim dengan pandangan realitas dilapangan, antara kesempurnaan tarbiyah dan ta’lim dengan tatanan dan aktifitas politik serta ekonomi, dan lain-lain hal yang memenuhi hajat kaum muslimin dewasa ini. Gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan Hasan Al-Banna di Mesir pad atahun 1928 yaitu dengan karya tulis maupun sepak terjangnya di lapangan dakwah untuk memompa semangat kebangkitan umat dengan contoh gerakan dakwah serta melalui metode tarbiyah yang digulirkannya sehingga Islam demikian mudah untuk dipahami, ayat-ayat Al-Quran terasa demikian hidup dihadapan pembacanya.

Dalam perkembangannya, Hasan Al-Bana memiliki konsep tarbiyah sebagaimana pernyataan beliau bahwa pendidikan dan pembinaan umat, memperjuangkan prinsip-prinsip nilai, dan pencpaian cita-cita sesungguhnya memerlukan partisipasi seluruh umat, atau paling tidak sekelompok dari mereka, yakni memperjuangkan tegaknya :

– kekuatan jiwa yang besar, yang dimanifestasikan dalam bentuk tekad yang kuat dan tegar

– kesetiaan yang utuh, bersih dari sikap lemah dan munafik

– pengorbanan yang suci, yang tidak diperdayakan oleh sifat tamak dan bakhil

B. KUNCI MEMAHAMI DAKWAH IKHWANUL MUSLIMIN

Dakwah pokok ikhwanul muslimin adalah pembaharuan dan paham zaman. Suatu dakwah yang masuk dalam dakwah tersebut adalah :

1. Warisan Rasulullah kepada kita seperti Al-Quran, As-Sunnah, contoh aplikasi dan produk yang dihasilkan dari ilmu dan amal. Sehingga perlu ada gerakan “menghidupkan Islam” menuntut penghidupan ilmu, amal, dan produknya (hati, jira dan ruhani)

2. Proses menghidupkan Islam menyangkut hal-hal berikut :

a. fiqih dusturi (fikih Negara); memformat kehidupan Islam dengannya

b. fiqih anniqabah (system peserikatan dagang); kongis dagang harus berangkat dari fiqih Islam dalam pelaksanaannya

c. Qawanin (undang-undang) seperti undang-undang sipil, kriminal, personal, Negara, niaga atau lainnya

d. Menghidupkan kembali rumah tangga Islam

e. Mengembalikan dinamika kehidupan Islam

f. Menghidupkan Islam yaitu dengan menghidupkan kembali sitem nilai Islam, baik secara global maupun secara sektoral

Prinsip umum dakwah Ikhwanul Muslimin

1. Semua partai pasti memiliki tujaun, sarana, strategi, system pengajaran dan pendidikan, prinsip-prinsip organisasi, undang-undang, khithah, dan berbagai aturan lainnya. Pun Ikhwanul Muslimin dengan mengibarkan hizbullah (partai Allah)

Pendapat para mujahid, setelah menggali kandungan Al-Qur’an., As

Sunnah, dan berdasar pada kaidah-kaidah ushuliyah yang berlaku bahwa Ikhwanul Muslimin adalah jamaah yang masuk dalam wilayah syariat Islam

Memelihara opini umu, baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional merupakan salah satu prinsip Islam
Pegangan Ikhwan adalah ia harus dibenarkan oleh syariat dan ia harus sebanding dengan senjata musuh dan dapat mencapai tujuan
Prinsip yang menjadi pegangan dalam polotik luar negeri adalah prinsip maslahah dengan maslahah
Dalam perjalanan menuju sebuah wilayah Islam bersatu, setiap wilayah memiliki undang-undang sendiri berdasarkan syarriat dan semua wilayah pemerintahan Islam harus tunduk kepada kekuasaan amirul mukminin dan seluruh perangkat pemerintahan pusat dalam perspektif undang-undang yang berlaku.
Dalam Islam ada hukum yang dapat berubah mengikuti perubahan masa.

Dan kunci dakwah bagi seorang anggota Ikhwanul Muslimin adalah

Kita hendaknya memahami permasalah dakwah kita dan di sisi lain kita harus pandai mendakwahkannya
Pembicaraan dakwah yang harus kita sentuh adalah pembicaraan tentang ruh, jiwa dan hati, kebutuhan hati akan dinamika, kebutuhan jiwa akan kebersihan, dan kebutuhan ruh akan pengabdian yang ikhlas kepada Allah.
Kita harus memahami kapasitas intelektual orang yang kita ajak bicara karena dalam konteks itulah pembicaraan dan dakwah berlangsung.

C. TANGGUNG JAWAB BESAR

Tanggung jawab terbesar adalah melakukan tajdid (pembaruan) dan naql (alih generasi). Yakni pembaruan ajaran Islam dan proses perubahan terhadap pribadi muslim dari satu kondisi ke kondisi lain dan perubahan umat Islam dari satu fase je fase lain.

1. Tentang Ikhwanul Muslimin, melalui penjelasan Hasan Al Banna, terdapat dua fenomena; pertama, Ikhwan sebagai sebuah jamaah yang memusatkan perhatian pada pelayanan umum. Kedua, Ikhwan sebagai sebuah gerakan pembaruan yakni dakwah fikrah (pemikiran) dan aqidah.

2. Mengubah umat sebagai prolog dari proses mengubah dunia.

Tanggung jawab pertama jamaah atau pemimpinnya adalah mengubah kondisi pribadi muslim dan selanjutnya kaum muslimin

D. TENTANG TUJUAN

Tujuan pokok Ikhwanul Muslimin :

1. Membebaskan negeri Islam dari semua kekuatan asing. Ini merupakan hak asasi dari setiap manusia yang ditidak diingkari

2. Menegakkan di atas tanah air ini sebagai Negara Islam yang merdeka, yang memberlakukan hukum-hukum Islam, menerapkan undang-undang sosialnya, memproklamirkan prinsip-prinsip dan nilai-nilainya, dan menyampaikan dakwah Islam dengan bijaksana kepada seluruh umat manusia. Selama Negara ini belum tegak, seluruh umat Islam berdosa dan bertanggung jawab di hadapan Allah atas kealpaan mereka untuk itu.

Tingkatan amal yang dituntut dari seorang yang tulus adalah :

1. Individu; adanya perbaikan diri sehingga ia menjadi orang yang kuat fisik, akhlak, luas wawasan, benar ibadahnya dsb.

2. Rumah tangga; pembentukan keluarga muslim yaitu dengan mengkondisikan keluarga agar menghargai fikrahnya seperti menjaga etika Islam dalam setiap aktivitas, memilih istri yang baik, mendidik anak dan membimbing mereka.

3. Masyarakat; membimbing masyarakat yakni dengan menyebarkan dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar, bersegera dalam kebaikan dsb.

4. Pemerintah; yaitu memperbaiki keadaan pemerintah sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik.

5. Daulah Islamiyah; bahwa daulah ini merupakan daulah yang memimpin Negara-negara Islam dan menghimpun ragam kaum muslimin, mengembalikan keagungan, serta mengembalikan wilayah yang telah hilang dan tanah air yang telah dirampas oleh penguasa asing baik secara politik, ekonomi maupun moral.

6. Tegaknya Daulah dan Khilafah Islamiyah; yaitu bahwa semua Negara Islam harus bebas dari cengkeraman kekuasaan asing dan harus tertegak sebuah daulah Islamiyah yang bebas.

7. Dunia seluruhnya hanya tunduk kepada Allah SWT; dengan daulah Islamiyah ini yang mengibarkan panji-panji jihad dan dakwah, sehingga dunia seluruhnya akan menjadi berbahagia dengan ajaran-ajaran Islam

E. TENTANG SARANA

1. Tujuan Pertama adalah membentuk individu muslim. Sarana pada pencapaian tujuan pertama ini antara lain

– Murabbi (pembina) yakni murabbi yang arif sebagai pewaris Nabi

– Manhaj (system) yakni dengan dzikir, ilmu, dan amal

– Lingkungan yang sehat yaitu lingkungan dimana seorang muslim dapat menyerap ilmu, akhlak dan amal.

2. Tujuan kedua adalah terwujudnya rumah tangga muslim. Sarana pada pencapaian tujuan ketiga ini antara lain setiap akh memberikan perhatian yang besar terhadap persoalan rumah tangganya, baik sebagai suami, istri, orang tua, mapun sebagai anak-anak, adanya perhatian terhadap buku-buku guna pengarahan pembinaan, dan penyelenggaraan majelis-majelis ilmu

3. Tujuan ketiga adalah terwujudnya masyarakat muslim. Mengingat tahapan dakwah yaitu ta’rif (pengenalan), takwin (pembinaan), dan tanfidz (penerapan) sehingga sarana pada pencapaian tujuan kedua ini antara lain dengan mengenalkan Islam, jamaah, dan pembinaan atas moralitas Islam, serta disiplin barisan kaum muslimin. Dimana langkah-langkahnya denga halaqah-halaqah baik umum maupun khusus, usrah, katibah, diskusi secara kontinyu, dan amar ma’ruf nahi mungkar.

4. Tujuan keempat adalah menegakkan pemerintah Islam di setiap negeri. Sarana yang digunakan adalah dengan penguatan aqidah dan iman dimana standar ideal sosok yang memiliki ini adalah Rasulullah saw dan para sahabatnya. Selanjutnya sebagai sarana adalah kekuatan persatuan dan ikatan dimana persatuan kaum muslim sedunia merupakan salah satu keharusan yang telah Allah SWT amanahkan kepada mereka,

khususnya persatuan di masing-masing Negara yang mereka diami.

5. Tujuan kelima adalah terwujudnya Negara Islam inti. Sarana paling efektif pencapaian tujuan ini antara lain dengan menegakkan sebuah Negara Islam yang besar, yang memiliki kekuatan pengaruh dalam bidang politik, ekonomi, teknologi di sebagian bedar wilayah bumi, tau di Negara yang memiliki territorial yang luas. Dimana dalam mewujudkan Negara Islam inti adalah aktifitas yang terkoordinir sejak awal langkahnya di bawah satu pucuk pimpinan maka terwujudkan satu dakwah, satu institusi, satu perencanaan secara bersama, satu tarbiyah, dan lain-lain dalam langkah kekinian.

6. Tujuan keenam adalah menegakkan Negara Islam yang tunggal atau menegakkan Negara kesatuan Islam yang menghimpun seluruh Negara Islam yang tunduk di bawah satu pucuk pimpinan pusat dan diketuai oleh seorang imam. Itulah yang dilakukan Rasulullah SAW dan para khalifah dalam memimpin dan membimbing umat. Sarana untuk mewujudkan adalah melangkah di atas mukadimah yang benar, yakni tegaknya kaidah-kaidah yang benar, yang dari sanalah Islam di berbagai wilayah bertolak.

7. Tujuan ketujuh adalah menegakkan Negara Islam internasional yang berkah dan rahmatnya menaungi semua bangsa di dunia. Sarana/cara yang dipergunakan adalah beraktivitas secara terus menerus yang sesuai dan layak untuk memastikan bahwa dunia akan menerima dakwah ini.

F. TAHAPAN-TAHAPAN DAKWAH

Dalam Risalah Ta’alim, Hasan Al-Banna mengatakan, “Tahapan dakwah ini ada tiga macam :

1. Ta’rif

Tahapan ini dilakukan dengan menyebarkan fikrah Islam di tengah masyarakat yaitu dengan system dakwah berupa system kelembagaan. Dengan kata lain ta’rif ini yaitu memperkenalkan Islam secara umum kepada orang baik secara alamiah maupun praktis. Ini menuntut pengajaran, batas minimal spesialisasi, dan batas minimal komitmen. Urgensinya adalah kerja social bagi kepentingan umum, sedangkan

medianya adalah nasehat dan bimbingan sekali waktu, serta membangun

berbagai tempat yang berguna di waktu lain. Seperti kegiatan ceramah-ceramah, halaqah (baik umum maupun khusus), dakwah fardiyah (perorangan), dan studi mandiri penyebaran buku serta penjelasan

2. Takwin

Tahapan dakwah ini ditegakkan dengan melakukan seleksi terhadap anasir positif untuk memikul beban jihad dan untuk menghimpun berbagai bagian yang ada. Atau takwin ini adalah mentarbiyah orang dengan standar keanggotaan dalam jamaah untuk memainkan perannya yang optimal bagi pelayanan Islam. Ini dilakukan melalui usrah, halaqah, dan daurah. Halaqah untuk mendapatkan program ilmiah yang mendesak bagi masing-masing status keanggotaan; usrah untuk mendapatkan program khusus; dan daurah untuk mendapatkan bekal yang mendesak untuk tahapan tertentu.

Tingkatan-tingkatan keanggotaan pokok menurut kita barangkali ada empat, yakni tingkatan pendukung, mujahid, naqib (ketua grup kecil), dan na;ib (ketua para naqib). Masing-masing tingkatan menuntut wawasan, ketrampilan, dan komitmennya sendiri. Melalui takwin inilah seseorang akan ditentukan arahnya untuk menangani ta’rif, takwin ataukah tanfidz.

System dakwah takwin ini bersifat tasawuf murni dalam tataran ruhani dan bersifat militer dalam tataran operasional. Slogan utama dalam persiapan ini adalah totalitas ketaatan. (perintah dan taat tanpa keraguan).

3. Tanfidz

Dakwah dalam tahapan ini adalah jihad, tanpa kenal sikap plin-plan kerja terus menerus untuk menggapai tujuan akhi, dan kesipapan menaggung cobaan dan ujian yang tidak mungkin bersabar atasnya kecuali orang-orang yang tulus. Tidaklah dapat dakwah ini meraih keberhasilan kecuali dengan “ketaatan yang total” juga. Untuk inilah shaf pertama Ikhwanul Muslimin berbaiat pada bulan Rabi’ul Awwal 1359 H.

Agar ketiga hal ini dapat sukses maka kita harus memiliki tiga perangkat yakni perangkat ta’rif, perangkat takwin, dan perangkat tanfidz. Setiap perangkat harus memiliki manhaj, perencanaan, metode, dan kecakapan. Semuanya harus dalam naungan hierarki organisasi, program kerja yang komprehensif, serta persepsi yang jelas tentang pendidikan dan pengajaran. Ini menuntut kejelasan dalam peringkat keanggotaan, kualifikasi, dan sinergi fungsi berbagai perangkat.

G. RISALAH TA’LIM DAN SENDI-SENDI PEMBENTUKAN PRIBADI ISLAM

Sendi-sendi kepribadian Islam yang dapat menegakkan Islam sekaligus mewujudkan tujuan-tujuannya- melaui bingkai tahapan dakwah- berjumlah sepuluh sendi (rukun bai’at), antara lain:

1. Fahm (kefahaman)

Bahwa kita yakin fikrah kita adalah “fikrah Islamiyah yang bersih”. Kefahaman ini seperti memahami batas-batas ushulul ‘isyirin (dua prinsip) antara lain :

1) Islam adalah system yang menyeluruh yang menyentuh seluruh segi kehidupan

2) Alquran yang mulia dan Sunnah Rasul yang suci adalah tempat kembali setiap muslim untuk memahami hokum-hukum Islam

3) Iman yang tulus, ibadah yang benar, dan mujahadah (kesungguhan dalam beribadah) adalah cahaya dan kenikmatan yang ditanamkan Allah di dalam hati hamba-Nya yang Dia kehendaki

4) Jimat, mantera, guna-guna, ramalan, perdukunan, penyingkapan perkara ghaib, dan semisalnya merupakan sebuah kemungkaran yang harus diperangi, kecuali mantera dari ayat Al QUr’an atau ada riwayat dari Rasulullah saw.

5) Pendapat imam atau wakilnya tentang sesuatu yang tidak ada teks hukumnya, tentang sesuatu yangmengandung ragam interpretasi, dan tentang sesuatu yang membawa kemaslahatan umum bisa diamalkan sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah umum syariat.

6) Setiap otang boleh diambil atau tidak kata-katanya, kecuali Al-Ma’shum (Rasulullah) saw.

7) Setiap muslim yang belum mencapai kemampuan menelaah terhadap dalil-dalil hokum furu’(cabang) hendaklah mengikuti pemimpin agama dan bersamaan dengan itu berusaha semampu yang ia lakukan untuk mempelajari dalil-dalilnya.

8) Khilaf dalam masalah furu’(cabang) hendaknya tidak menjadi factor pemecah belah agama, tidak menyebabkan permusuhan, dan tidak menyebabkan kebencian.

9) Setiap masalah yang amal tidak dibangun di atasnya, sehingga menimbulkan perbicangan yang tidak perlu, adalah kegiatan yang dilarang secara syar’i.

10) Ma’rifat kepada Allah dengan sikap tauhid dan penyucian (Dzat)-Nya adalh setinggi-tinggi tingkatan aqidah Islam.

11) Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakan tetapi dilarang baik oleh hawa nafsu manusia, baik berupa penambahan maupun pengurangan, adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan sarana yang sebaik-baiknya, yang jika tidak justru menimbulkan bid’ah lain yang lebih parah.

12) Perbedaan pendapat dalam masalah bid’ah idhafiyah (bid’ah penambahan; misal berdzikir dengan suara keras), bid’ah tarkiyah (bid’ah penolakan missal mengharamkan sesuatu yang halal), dan bid’ah iltizam (membuat aturan-aturan bagi ibadah yang bersifat mutlak, seperti membaca secara rutin adzkar) terhadap ibadah mutlaqag ( yang tidak ditetapkan, baik cara maupun waktunya) adalah perbedaan dalam masalah fikih.

13) Cinta kepada orang-orang shalih, memberikan penghormatan kepadanya dan memuji karena perilaku baiknya adalah bagian dari taqarub kepada Allah SWT.

14) Ziarah kubur, kubur siapapun adalah sunah yang disyariatkan dengan cara-cara yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

15) Doa apabila diiringi denga tawasul kepada Allah dengan salah satu makhluk-Nya adalah perselisihan furu’ menyangkut tata cara berdoa, buka termasuk masalah aqidah

16) Istilah -keliru- yang sudah mentradisi (misal praktek ribawi) tidak akan mengubah hakekat hokum syar’inya. Akan tetapi ia harus disesuaikan dengan maksud dan tujuan syariat itu dan kita berpatokan dengannya.

17) Aqidah adalah pondasi segala aktivitas (aktivitas hati lebih penting dari aktivitas fisik). Namun usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syari’at

18) Islam itu membebaskan akal pikiran, menghimbau untuk melakukan telaah terhadap alam, mengangkat derajat ilmu dan ulamanya sekaligus, serta menyambut hadirnya segala sesuatu yang melahirkan maslahat dan manfaat.

19) Pandangan syar’i dan pandangan logika memiliki wilayah masing-masing yang tidak dapat saling memasuki secara sempurna (selalu beririsan)

20) Kita tidak mengkafirkan seorang muslim yan gtelah mengikrarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya, baik karena lontaran pendapatmaupun karena kemaksiatannya, kecuali jika ia melakukan tindakan kufur, mendustakan Al-Qur’an secara terang-terangan.

2. Ikhlas

Ikhlas bahwa akhul muslim dalam setiap kata, aktivitas, dan jihadnya harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha Allah dan pahala-Nya tanpa mempertimbangkan aspek kekayaaan, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau keterbelakangan. Dengan itulah ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan ambisi pribadi.

3. Amal

Amal (aktivitas) ini adalah buah dari ilmu dan keikhlasan

4. Jihad

Jihad ini maksudnya adalah sebuah kewajiban yang hukumnya tetap hingga hari kiamat. Dimana peringkat pertma jihad adalah pengingkaran dengan hati dan peringkat terakhirnya adalah berperang di jalan Allah swt. Diantara keduanya terdapar jihad denga pena, tangan, dan lisan berupa kata-kata yang benar dihadapan penguasa yang zhalim.

5. Tadhiyah (pengorbanan)

Tadhiyah ini maksudnya adalah pengorbanan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala sesuatu yang dipunyai oleh seseorang untuk meraih tujuan. Tidak ada perjuangan di dunia ini kecuali harus disertai dengan tadhiyah. Demi fikrah, janganlah mempersempit pengorbanan, karena sesungguhnya ia memiliki balasan yang agung dan pahala yang indah.

6. Taat

Taat ini maksudnya adalah menunaikan perintah dengan serta merta, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun malas. Yang disesuaikan dengan tahapan dakwah ta’rif, takwin dan tanfidz

7. Tsabat (keteguhan)

Tsabat (keteguhan) ini maksudnya adalah bahwa seorang akh hendaknya senantiasa bekerja sebagai mujahis di jalan yang mengantarkan pada tujuan, betapapun jauh jangkauannya dan lama masanya hingga bertemu dengan Allah dalam keadaan yang tetap demikian. Dengan demikian ia telah berhasil mendapatkan salah satu dari dua kebaikan yakni menang atau syahid di jalan-Nya

8. Tajarrud ((kemurnian)

Tsabat (keteguhan) ini maksudnya adalah membersihkan pola piker dari prinsip nilai dan pengaruh individu yang lain, karena ia adalah setinggi-tinggi dan selengkap-lengkap fikrah.

9. Ukuhwah

Ukuhwah ini maksudnya adalah terikatnya hati dan nurani dengan ikatan akidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh dan semulia-mulia ikatan. Ukhuwah adalah saudara nya keimanan sedangkan perpecahan adalah saudaranya kekufuran. Kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan. Tidak ada persatuan tanpa cinta kasih. Standar minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan standar maksimal adalah itsar (mementingkan orang lain dari diri sendiri)

10. Tsiqah (kepercayaan)

Tsiqah (kepercayaan) ini maksudnya adalah rasa puasnya seorang tentara atas komandannya, dalam hal kapasitas kepemimpinannya maupun keikhlasannya, dengan kepuasan mendlam yang menghasilkan perasaan cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan.

H. KEWAJIBAN SEORANG MUJAHID

Kewajiban seorang mujahid :

1. Memiliki wirid harian dari kitabullah tidak kurang dari satu juz. Usahakan untuk menghatamkan Al-Qur’an dalam waktu tidak lebih dari sebulan dan tidak kurang dari tiga hari

2. Membaca Al-Qur’an dengan baik, memperhatikan dengan seksama, dan merenungkan artinya

3. Mengkaji Sirah Nabi dan sejarah generasi salaf sesuai dengan waktu yang tersedia

4. Bersegera melakukan general ckeck up secara berkala atau berobat, begitu penyakit terasa mengenai. Di samping itu perhatikan factor-faktor penyebab kekuatan dan perlindungan tubuh, serta hindarilah factor-faktor penyebab lemahnya kesehatan.

5. Menjauhi sikap berlebihan dalam mengonsumsi kopi, the, dan minuman perangsang semisalnya. Janganlah meminumnya kecuali dalam keadaan darurat dan hendaklah menghindarkan diri sama sekali dari rokok.

6. Perhatikan urusan kebersihan dalam segala hal menyangkut tempat tinggal, pakaian, makanan, badan, dan tempat kerja, karena agama ini dibangun di atas dasar kebersihan

7. Jujur dalam berkata dan sekali-kali berdusta

8. Menepati janji; jangan mengingkarinya, bagaimanapun kondisi yang dihadapi

9. Menjadi seorang yang pemberani dan tahan uji. Keberanian yang paling utama adalah terus terang dalam mengatakan kebenaran, ketahanan menyimpan rahasia, berani mengakui kesalahan, adil terhadap diri sendiri, dan dapat menguasainya dalam keadaan marah sekalipun

10. Senantiasa bersikap tenang dan terkesan serius. Namun janganlah

keseriusan ini menghalangi dari canda yang benar, senyum dan tawa.

11. Memiliki rasa malu yang kuat, berperasaan yang sensitive, dan peka oleh kebaikan dan keburukan, yakni munculnya rasa bahagia untuk yang pertama dan rasa tersiksa untuk yang kedua. Juga bersikap rendah hati dengan tanpa menghinakan diri, tidak bersikap taklid, dan tidak terlalu berlunak hari. Juga hendaklah menuntut-dari orang lain- yang lebih rendah dari martabatmu untuk mendapatkan martabatmu yang sesungguhnya.

12. Bersikap adil dan benar dalam memutuskan suatu perkara pada setiap situasi. Jangan kemarahan melalaikan dari berbuat kebaikan, janganlah mata keridhaan dipejamkan dari perilaku yang buruk. Janganlah permusuhan membuat lupa dari pengakuan jasa baik, dan hendaklah berkata benar meskipun itu merugikan atau merugikan orang yang paling dekat denganmu.

13. Menjadi pekrja keras dan terlatih dalam aktivitas social. Merasa bahagia jika dapat mempersembahkan bakti untuk orang lain, gemar membesuk orang sakit, membantu orang yang membutuhkan, menanggung, menanggung orang yang tertimpa musibah meskipun hanya dengan kata-kata. Hendaklah juga senantiasa bersegera untuk berbuat kebaikan.

14. Berhati kasih, dermawan, toleran, pemaaf, lemah lembut kepada manussia maupun binatang, berperilaku baik dalam berhubungan degnan semua orang, menjaga etika-etika sosial Islam, menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar, memberi tempat kepada orang lain dalam majelis, tidak memata-matai, tidak mengumpat, meminta izin jika masuk maupun keluar rumah, dll.

15. Pandai membaca dan menulis, memperbanyak muthala’ah terhadap risalah ikhwan, koran, majalah, dan tulisan lainnya. Hendaklah membangun perpustakaan khusus, seberapa pun ukurannya; konsentrasi terdapap terhadap spesifikasi keilmuan dan keahlian jika seorang spesialis; dan kuasailah persoalan, Islam secara umum yang dengannya dapat membangun persepsi yang baik untuk menjadi referensi bagi pemahaman terhadap tuntutan fikrah

16. Memiliki proyek usaha ekonomi, betapapun seorang kaya; utamakan proyek yang mandiri, betapapun kecilnya; dan cukuplah dengan apa yang ada pada dirimu, betapapun tingginya kapasitas keilmuan.

17. Jangan terlalu berharap untuk menjadi pegawai negeri dan jadikanlah ia sebagai sesempit-sempit pintu rezeki, namun jangan pula ditolak jika diberi peluang untuk itu. Janganlah melepaskannya kecuali jika ia benar-benar bertentangan dengan tugas-tugas dakwah.

18. Perhatikan penunaian tugas-tugasmu (bagaimana kecermatan dan kualitas), jangan menipu, dan tepatilah kesepakatan.

19. Penuhi hakmu dengan baik, penuhi hak-hak orang lain dengan sempurna tanpa dikurangi dan dilebihkan, dan janganlah menunda-nunda pekerjaan.

20. Menjauhkan diri dari judi dengan segala macamnya, apapun maksud di baliknya. Hendaklah juga menjauhi mata pencaharian yang haram, betapapun keuntungan besar yang ada dibaliknya.

21. Menjauhkan diri dari riba dalam setiap aktivitas dan sucikanlah ia sama sekali dari riba.

22. Memelihara kekayaan umat Islam secara umum dengan mendorong berkembangnya pabrik-pabrik dan proyek-proyek ekonomi Islam. Hendaklah menjaga setiap keeping mata uang agar tidak jatuh ke tangan orang-orang non-muslim dalam keadaan bagaimanapun. Janganlah makan dan berpakaian kecuali produk negeri Islam sendiri.

23. Memiliki kontribusi finansial dalam dakwah, tunaikan kewajiban zakatmu, dan jadikan sebagian dari hartamu itu untuk orang yang meminta dan orang yang kekurangan, betapapun, betapapun kecil penghasilanmu.

24. Menyimpan sebagian dari penghasilanmu untuk persediaan masa-masa sulit, betapapun sedikit, dan jangan sekali-kali menyusahkan diri untuk mengejar kesempurnaan.

25. Bekerja-semampu yang dilakukan-untuk menghidupkan tradisi Islam dan mematikan tradisi asing dalam setiap aspek kehidupan, misalnya ucapan salam, bahasa, sejarah, pakaian, perabot rumah tangga, cara kerja dan istirahat, cara makan dan minum, cara dating dan pergi, serta gaya melampiaskan rasa suka dan duka. Hendaknya menjaga sunnah dalam setiap aktivitas tersebut.

26. Hendaknya memboikot peradilan setempat atau peradilan yang tidak Islami, demikian juga gelanggang-gelanggang, penerbitan-penertiban, organisasi-organisasi, sekolah-sekolah, dan segenap institusi yang tidak mendukung fikrah secara total.

27. Senantiasa merasa diawasi oleh Allah swt, mengingat akhirat dan bersiap-siap untuk menjemputnya, mengambil jalan pintas untuk menuju ridha Allah dengan tekad yang kuat, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah sunnah, puasa tiga hari-minimal setiap bulan, memperbanyak dzikir (hati dan lisan), dan berusaha mengamalkan doa yang diajarkan pada setiap kesempatan.

28. Bersuci dengan baik dan usahakan agar senantiasa dalam keadaan berwudhu (suci) di setiap besar waktunya.

29. Melakukan shalat dengan baik dan senantiasa tepat waktu dalam menunaikannya. Usahakan untuk senantiasa berjamaah di masjid jika ia mungkin dilakukan.

30. Berpuasa Ramadhan dan berhaji dengan baik, jika mampu melakukannya. Kerjakanlah sekarang juga jika telah mampu.

31. Senantiasa menyertaimu dirimu dengan niat jihad dan cinta mati syahid. Bersiaplah untuk itu kapan saja kesempatan untuk itu tiba.

32. Senantiasa memperbarui taubat dan istighfar. Berhati-hatilah terhadap dosa kecil, apalagi dosa besar. Sediakanlah-untuk dirimu-beberapa saat sebelum tidur untuk mengintrospeksi diri terhadap apa-apa yang telah dilakukan; yang baik maupun yang buruk. Perhatikan waktun, karena waktu adalah kehidupan itu sendiri. Janganlah pergunakan ia-sedikit pun-tanpa guna, dan janganlah ceroboh terhadap hal-hal yang syubhat agar tidah jatuh ke dalam kubangan yang haram.

33. Berjuang meningkatkan kemampuanmu dengan sungguh-sungguh agar dapat menerima tongkat kepemimpinan. Hendaklah menundukkan pandangan, menekan emosi, memotong habis selera rendah dari jiwamu. Bewalah ia hanya untuk menggapai yang halal dan baik, serta hijabilah ia dari yang haram dalam keadaan bagaimanapun.

34. Menjauhi khamer dan seluruh makanan atau minuman yang memabukkan sejauh-jauhnya

35. Menjauh dari pergaulan dengan orang jahat dan persahabatan dengan orang yang rusak serta jauhilahtempat-tempat maksiat

36. Perangi tempat-tempat iseng, jangan sekali-kali mendekatinya, serta jauhilah gaya hidup mewah dan bersantai-santai.

37. Mengetahui anggota katibahmu satupersatu dengan pengetahuan yang lengkap, dan kenalkanlah dirimu kepada mereka selengkap-lengkapnya. Tunaikanlah hak-hak ukhuwah mereka dengan seutuhnya; hak kasih saying, perhargaan, pertolongan, itsar. Hendaklah senantiasa hadir di majelis mereka. Tidak absent kecuali karena udzur darurat, dan pegang teguhnyalah itsar dalam pergaulanmu dengan mereka

38. Hindari hubungan dengan organisasi atau jamaah apapun, sekiranya hubungan itu tidak membawa maslahat bagi fikrahmu, terutama jika diperintahkan untuk itu.

39. Menyebarkan dakwahmu dimanapun dan memberi informasi kepada pemimpin tentang segala kondisi yang melingkupimu. Dan janganlah berbuat sesuatu yang berdampak strategis kecuali dengan seizinnya.

40. Senantiasa menjaga hubungan, baik secra ruhiyah maupun’amali, dengan jamaah dan menempatkan dirimu sebagai ”tentara yang berada di tangsi yang menanti instruksi komandan”

Lima slogan atas prinsip-prinsip ini:

1. Allah Ghayatuna (Allah adalah tujuan kami)

2. Ar-Rasul Qudwatuna (Rasul adalah teladan kami)

3. Al-Qur’an Syir’atuna (Al-Qur’an adalah undang-undang kami)

4. Al-Jihad sabiluna (jihad dalah jalan kami)

5. Asy-Syahadah umniyyatuna (Mati syahid adalah cita-cita kami)

Jika dihimpun dalam berbagai kata berikut : kesederhanaan, tilawah, shalat, keprajuritan, akhlak.

Golongan manusia dalam pandangan akh :

1. Muslim yang pejuang (mujahid)

2. Muslim yang duduk-duduk (Qa’idiin)

3. Muslim yang pendosa

4. Dzimmi atau mu’ahid (orang kafir yang terikat oleh perjanjuan damai)

5. Muhayyid (orang kafir yang dilindungi)

6. Muharib (orang kafir yang memerangi)

I. URAIAN PELENGKAP

Hal-hal lain yang dibahas dalam Risalah Ta’lim antara lain :

1. Beberapa kaidah yang sesuai dengan tabiat dakwah kita dan perlu diperhatikan dalam Manhaj Tsaqafah, Ta’lim, dan Tarbiyah

1) Kaidah pertama; bahwa manhaj kita harus selaras dengan dakwah dan harakah kita. Bahwa harakah kita adalah harakah Islam modern

2) Kaidah kedua; bahwa manhaj kita harus memberikan kepada setiap muslim ketahanan moral agar terhindar dari kesesatan dan ketergelinciran, disamping terhindar dari penyelewengan pemikiran Islam atau pemikiran jamaah

3) Kaidah ketiga; bahwa kita harus meletakkan tangan setiap muslim sebuah barometer yang dapat mengukur segala sesuatu yang melingkupinya dengan standar Islam

4) Kaidah keempat; persepsi umum tentang ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam

5) Kaidah kelima; tentang tingkatan keanggotaan dalam dakwah ikhwan:

– Ikatan umum (yang terjalin dalam ikatan ini disebut akh musa’id)

– Ikatan ukhuwah (disebut akh muntasib)

– Ikatan amal (disebut akh ‘amil)

– Ikatan jihad (disebut akh mujahid)

– Akh naqib (akh yang mendapat gelar dalam ikatan amal)

– Akh naib (akh yang mendapat gelar dalam ikatan jhad)

6) Kaidah keenam; tentang cara pandang ikhwah dakwah ikhwanul muslimin yakni bahwa ikhwah merupakan pemahaman secara menyeluruh terhadap Islam, meyakini adanya Allah swt adalah haq dan bahwa Muhammag saw adalah utusan Allah yang haq.

7) Kaidah ketujuh; bahwa manhaj harus memperhatikan muatan yang menyangkut dua tahapan dalam kehidupan yakni tahapan sebelum baligh dan tahapan setelah baligh

8) Kaidah kedelapan; bahwa manhaj harus tidak terdapat ruang yang memungkinkan masuknya kekufuran dan kesesatan sehingga merusak hati, jiwa, dan pikiran kaum muslimin

9) Kaidah kesembilan; bahwa komitmen kepada Islam pada gilirannya dapat mewujudkan berbagai nilai-nilai (karakter) yang dibutuhkan oleh setiap diri muslim dan jamaah Islam.

10) Kaidah kesepuluh; bahwa pada jamaah Ikhwanul Muslimin terdapat berbagai slogan dan pembahasan tentang akhlak dan etika dalam kehidupan, dimana kebenaran, kekuatan, dan kebebasan sebagai syi’ar gerakan

11) Kaidah kesebelas; bahwa kesempurnaan ke-Islaman seseorang jika ia melakukan halaqah-halaqah umum karena ada berkah khusus, melakukan halaqah-halaqah khusus karena menhantarkan seseorang pada pengetahuan yang terfokus, senantiasa mengintrospeksi diri untuk mendapatkan kadar pengetahuan yang tinggi disertai upaya pribadi yang panjang dan terfokus

12) Kaidah kedua belas; bahwa jamaah Islam harus memiliki sistem dengan tonggak suatu prinsip nilai, mempunyai perencanaan dan program kerja, memiliki konsep tarbiyah dan ta’lim yang saling berjalin.

13) Kaidah ketiga belas; bahwa harus ada pejuang kebenaran dalam umat ini yang tidak pernah terputus gerak-nya walau sejenak

14) Kaidah keempat belas; bahwa kita adalah gerakan tajdidi (pembaru) dengan menghidupkan kembali seluruh ajaran Islam dan memperbarui wawasan, tindakan, serta moralitas di setiap level

15) Kaidah kelima belas; bahwa kita tidak boleh lupa bahwa kita senantiasa berhadapan dengan dua aliran pemikiran besar, yakni kapitalisme dan sosialisme komunis.

2. Peringkat keanggotaan dan hal-hal prinsip

Bahwa dari peringkat keanggotaan yang telah ada, dapat diringkas lagi menjadi lima peringkat antara lain anshar, mujahidin, ‘amilin, nuqaba (para naqib), nuwwab (para naib). Dimana masing-masing peringkat itu seharusnya memiliki manhaj, karakteristik, dan pola komitmen sendiri. Menigkat atau tidaknya kualitas keanggotaan seseorang (atau tetap tidaknya seseorang di luar barisan) tergantung pada kadar kemampuan manhaj (wilayah ilmu dan pengetahun), karakteristik (kepribdian) dan komitmennya.

3. Beberapa Standar, penjelasan, dan metodologi dalam rangka melengkapi profil perjalanan tarbiyah dan ta’lim pada dakwah Ikhwanul Muslimin.

a. Standar

– bahwa standar keberhasilan pada peringkat pertama dalam manhaj dan di awal keanggotaannya adalah pelaksanaan secara sempurna akan tuntutan iman, shalat, infaq, dan loyalitas penuh kepada jamaah

– bahwa standar keberhasilan pada peringkat kedua adalah terealisasinya secara penuh mahabbatullah, rendah hati kepada sesama mukmin, tegas terhadap orang-orang kafir, dan jihad di jalan Allah swt dengan tidak merasa takut atas celaan orang-orang yang mencela

– bahwa standar keberhasilan pada jenjang naqib adalah terlaksananya nilai-nilai peringkat sebelumnya ditambah luasnya ilmu pengetahuan dan terpenuhinya beberapa sifat khusus bagi seorang naqib muslim, seperti lemah lembut, pemurah, serius, kasih sayang sesama muslim, senang bermusyawarah, jujur, komitmen, wara’, bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang dipikulkan di pundaknya, dan sifat-sifat lain yang menjadi karakter pribadi seorang muslim.

b. Penjelasan

Metode takiwiyah (pembinaan) merupakan inti dalam bangunan Jamaah. Ikhwan yang paling baik ilmu, ketakwaan, tarbiyah, maupun akhlaknya.

c. Metodologi (metode) dalam tarbiyah dan ta’lim

Daurah ada beberapa bentuk yakni daurah ilmiah, daurah ruhiyah, daurah yang diselenggarakan untuk peringkat ta’rif, daurah yang diselenggarakan untuk peringkat takwin (seperti daurah ruhiyah, daurah fikriyah tentang fikih dakwah, daurah amniyah, daurah pelatihan), daurah yang diselenggarakan untuk peringkat tanfidz.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s