Karena Cita-cita Harus Diperjuangkan!


“Para pembawa perubahan bukanlah mereka yang bangga dengan karya para pendahulunya. Para pembawa perubahan adalah mereka yang tampil menunjukan serta memperlihatkan usaha dan karya”
(The Agent of Change, Keberanian Memimpin Perubahan, Saiful A.Imam)

Alloh SWT dan RasulNya pun mengajarkan
Sudah bukan zamannya lagi kita mengandalkan warisan-warisan para pendahulu kita saja tanpa adanya sebuah inovasi. Zaman akan terus berkembang dan kita kan tertinggal jauh jika hanya membanggakan warisan-warisan itu. Kita tak akan merasakan terangnya lampu di malam hari, jika tak ada seorang Thomas Alfa Edison yang tak merasa puas dengan pelita lilin atau obor. Kita mungkin sekarang masih ada pada cengkraman orde baru, jika tak ada yang sadar bahwa negeri ini butuh reformasi
Alloh SWT tak akan merubah keadaan kita, kalau bukan usaha kita sendiri yang merubahnya, seperti firman Alloh SWT dalam surat Ar-Ra’du (13) : 11 artinya.”…..Sesungguhnya Alloh tidak akan merubah suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri….”. Alloh SWT dan RasulNya mengajarkan kita untuk berusaha dengan sungguh-sungguh terhadap apa yang harus kita cita-citakan. Rasulullah SAW yang merupakan manusia paling sempurna, kekasih Alloh SWT tidak mendapatkan sesuatu begitu saja tanpa adanya perjuangan. “Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah engkau bersungguh-sungguh (untuk urusan yang lain) dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap (Al Insyiroh(94):7-8)
Jangan bersedih, laa tahzaan innallahama’ana (jangan bersedih, sesungguhnya Alloh bersama kita; QS.At Taubah (9) :40). Kadang ketika sedang berjuang menggapai cita-cita, pasti ada saja yang membuat kita sedih, jenuh, ataupun malas. Fitrah memang sebagai manusia merasakan itu tapi jangan dijadikan apologi untuk terus berlarut-larut di dalamnya. Secepatnya tersadar, bangkit dan bersemangat kembali menggapai cita. Semua yang Alloh berikan adalah salah satu tanda bentuk kasih sayangNya pada kita. Menambah mutu proses perjuangan meraih cita-cita kita. Percayalah bahwa saat itu Alloh SWT sedang mendidik kita secara langsung.”apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan,”Kami telah beriman” dan mereka tidak di uji? Al Ankabut (29) : 2.
Yakin kan Alloh dan RasulNya memberikan kita pelajaran tentang arti sebuah cita-cita dan perjuangan untuk meraihnya?

Belajar dari Thoriq bin Ziyad
Senin, 3 Mei 711 M, Thariq membawa 70.000 pasukannya menyeberang ke daratan Eropa dengan kapal. Sesampai di pantai wilayah Spanyol, ia mengumpulkan pasukannya di sebuah bukit karang yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar -diambil dari bahasa Arab “Jabal Thariq”, Bukit Thariq. Lalu ia memerintahkan pasukannya membakar semua armada kapal yang mereka miliki. Pasukannya kaget. Mereka bertanya, “Apa maksud Anda?” “Kalau kapal-kapal itu dibakar, bagaimana nanti kita bisa pulang?” tanya yang lain. Dengan pedang terhunus dan kalimat tegas, Thariq berkata, “Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan: menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa!” Kini pasukannya paham. Mereka menyambut panggilan jihad Panglima Perang mereka itu dengan semangat berkobar. Lalu Thariq melanjutkan briefingnya. “Wahai seluruh pasukan, kalau sudah begini ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian ada laut dan di depan kalian ada musuh. Demi Allah swt., satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan. Percayalah, sesungguhnya Allah swt. adalah penolong utama kalian. Dan sayalah orang pertama yang akan memenuhi seruan ini di hadapan kalian. Saya akan hadapi sendiri Raja Roderick yang sombong itu. Mudah-mudahan saya bisa membunuhnya. Namun, jika ada kesempatan, kalian boleh saja membunuhnya mendahului saya. Sebab dengan membunuh penguasa lalim itu, negeri ini dengan mudah kita kuasai. Saya yakin, para pasukannya akan ketakutan. Dengan demikian, negeri ini akan ada di bawah bendera Islam.”
Thoriq bin Ziyad, pemuda yang menaklukan Eropa. Membawa peradaban baru, membawa risalah Islam. Bersungguh-sungguh untuk berjuang meraih cita-cita, menaklukan Spanyol untuk menyebarluaskan risalah Islam. Melihat pasukan Islam,yang jumlahnya lebih sedikit dari pasukan lawan, tidak menurunkan semangat pasukan Islam untuk terus berjuang. Startegi Thariq bin Ziyad yang membakar seluruh kapalnya, dilakukan untuk membakar semangat pasukannya untuk terus berjuang, menyakinakan bahwa Alloh swt adalah penolong kita yang utama. Di tengah berbagai keterbatasan, jangan jadikan itu sebuah apologi untuk tidak meraih cita-cita. Yang menjadi soal adalah bagaimana kita mengubah keterbatasan yang kita miliki menjadi peluang baru untuk meraih cita-cita kita.

Terakhir
Kampus adalah salah puzzle kehidupan kita. Kampus menjadi salah satu tempat berproses untuk meraih cita-cita. Di kampus kita bisa mendapatkan ilmu di bangku kuliah, berorganisasi, berdiskusi dan kemudian berkontribusi.
Berencanalah, berusahalah, berdoalah kemudian tawakal pada Alloh swt. Keep on spirit because every dream should be realized!

*dimuat di Buletin Al Fattah, KAMMI Komsat Thoriq Bin Ziyyad Purwokerto 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s