Lapindo Dalam Berita


Argumentasi pembenaran norma & tawa negara
Berita hari ini selalu terlewati diatas cinta pemodal
brita hari ini apa yg kan terjadi setelah hari ini 
dari atas tanah ini kutelusuri lagi
dan tak ada satupun yang dapat kupercayai
(Thufail Al Ghifari_Berita Hari ini)

Pagi ini seperti biasa, membuka jendela informasi lewat internet. Buku memang jendela ilmu, tapi jendela informasi layak disandang internet. Ada situs yang meng-up date berita bahkan bisa tiap detik. Nah, kaget ketika membaca berita ini http://news.detik.com/read/2012/07/26/143816/1975639/10/pernyataan-lengkap-hari-suwandi-minta-maaf-ke-aburizal-bakrie?nd992203605. Bapak Hari Suwandi, yang sangat heroik memperjuangkan nasibnya dan warga korban lumpur Lapindo tiba-tiba minta maaf kepada Abu Rizal Bakrie. Ah, ada apa ini? Perjuangan mengebu-gebu berubah menjadi seperti ini, (maaf) seperti menjilat ludah sendiri. Tidak mungkin perjuangan 25 hari jalan kaki dari Sidoarjo ke Jakarta, tiba-tiba luluh begitu saja. Pasti banyak yang menyayangkan bahkan kecewa pada sikap yang diambil Bapak Hari Suwandi. Coba simak kronologi perjalanannya, http://news.detik.com/read/2012/07/26/141924/1975602/10/kronologi-hari-suwandi-dari-porong-ke-jakarta?nd992203605 . Mulai dari warga, pengguna jalan, aktivis LSM, mahasiswa sampai kyai pondok pesantren pun, mendukung perjuangannya. Ada yang dengan sambutan hangat, mengajak berjabat tangan, memberikan tempat bermalam, memberi makanan, minuman bahkan uang. Kenapa ending perjalanan Sang Bapak  seperti ini?

Agenda Setting  ala Kasus Lumpur Lapindo
Kasus ini sejak 29 Mei 2006, menimbulkan banyak pro dan krontra. Tentunya banyak peran media disana untuk membentuk opini di tengah masyarakat. Politik pencitraan gaya orde baru (orba) digunakan. Dulu pemerintahan orba, menggunakan TVRI sebagai sarana pencitraan pemerintah. Mensosialisakan berbagai macam kegiatan pemerintah dan mengcounter citra negatif pemeritah.  Televisi nasional saat itu hanya TVRI, ketika mulai bermunculan televisi swasta nasionalpun TVRI harus diberikan space bersiaran di stasiun itu.
Begitupun yang dilakukan sang empunya perusahaan Lapindo.  Memiliki media televisi nasional, yang mempunyai jargon “terdepan mengabarkan” dan yang memaksa kita untuk bilang “wow keren!”. Akibat koorporasi media, satu orang bisa memiliki beberapa media hanya beda segmentasi saja tapi afiliasinya sama. Perhatikan! kedua media ini tidak akan menyebut “Kasus Lumpur Lapindo” tetapi “Kasus Lumpur Sidoarjo”. Karena dengan menyebut Lumpur Lapindo berarti mengaminkan  bahwa akibat dari semua ini adalah perusahaan Lapindo sedang kalau menyebutknya dengan Lumpur Sidoarjo maka menganggap kejadian ini adalah sebagai bencana alam.
Secara tidak sadar, opini kita sedang di bentuk oleh kedua media televisi nasional itu. Dalam teori komunikasi, teori agenda setting, Menurut Jalaludin Rahmat,  (2007 :229) secara selektif “gatekeepers” seperti penyuting, redaksi , bahkan wartawan sendiri menentukan mana yang pantas diberitakan dan mana yang pantas disembunyikan. Setiap kejadian atau isu diberi bobot tertentu dengan panjang penyajian (waktu penanyangan) dan cara penonjolan (frekuensi penayangan).

Berbagai cara dilakukan untuk memperbaiki citra, mendatangkan para ahli geologi yang sepakat bahwa Lapindo itu adalah bencana alam bukan karena faktor kesalahan Lapindo,untuk berbicara di seminar-seminar. Belum lagi adanya iklan di media massa, juga road show ke kampus-kampus. Semua kegiatan itu dilakukan untuk mesosialisasikan “fakta” Tim Pengawas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo bentukan DPR. Jika lumpur yang mengair disepakati karena bencana maka tanggung jawab mengganti rugi PT Lapindo Brantas hilang, sebagai gantinya pemerintah yang harus menanggungnya melalui APBN.  Wow Keren!

Entahlah apa yang terjadi di “belakang” Bapak Hari itu. Media itu sangat tau “mana yang pantas diberitakan dan mana yang pantas disembunyikan”. Finally, Si Bapak minta maaf, merasa diprovokasi melakukan perjuangan itu. Jujur, kecewa. Flashback ke belakang, media ini pun pernah menghadirkan narasumber palsu meski pada akhirnya dewan pers menyatakan media ini tidak melakukan rekayasa http://www.kompas.com/read/2010/04/09/1931453/Andis.Diminta.Berpura-pura.Jadi.Markus
tapi di salah satu pernyataan Bapak Hari, beliau menginginkan ganti rugi aset teman seperjalanannya juga segera dibayarkan. Apakah ini yang membungkam langkah perjuangan bapak Hari? sudah terbayarkan ganti ruginya… lalu yang lain? Ah„, korban Lumpur Lapindo ayo jalan semua ke Jakarta!

Media selamanya tak akan independen, ada kepentingan di balik semuanya. ada visi dan misi dari media ini yang menjadikan dasar bergeraknya. Belum lagi intervensi dari pemilik media. Yang terpenting adalah tetap menjalankan prinsip cover both side atau seimbang dalam mengabarkan. Selain itu juga harus memenuhi kode etik jurnalistik dan tidak lupa memenuhi sembilan elemen jurnalisme  Bill Kovach dan Tom Rosenstiel(2001,6) yaitu :
1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran
2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada masyarakat
3. Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi
4. Praktisi Jurnalisme harus menjaga indepedensi terghadap sumber berita
5. Jurnalisme harus menjadi pemantau kekuasaan
6. Jurnalisme harus menyediakan forum kritik maupun dukungan masyarakat
7. JUrnalisme harus berupaya keras untuk membuat hal yang penting menarik dan relevan
8. Jurnalisme harus menyiarkan berita komprehensif dan proporsional
9. Praktisi jurnalistik harus diperbolehkan mengikuti hati nurani mereka

Semoga media hari ini bisa lebih cerdas mengabarkan berita bukan semakin lebay mengabarkan. Semoga masyarakat semakin tercerdaskan oleh media.

Salam Cerdas Bermedia!

Inspired by :

Kovach, Bill dan Tom Rosenstiel. 2001. Sembilan Elemen Jurnalisme. Jakarta : Yayasan Pantau
Rahmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung:Remaja Rosdakarya
www.detik.com
www.kompas.com
Majalah TEMPO Edisi 25 Februari -2 Maret 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s