Media Hari ini dan Kegalauan


Dia memaksa kita tersandar

Seperti maling pemalas

Yang menyodorkan tangannya diborgol oleh waktu

Lewat layar kaca

Aku dilatih menghafal cara mencekik

Leher perempuan kesepian dengan tali raffia,

Menusuk jantung tetangga dengan linggis,

Menggergaji lengan demonstran,

Membkar badan bajingan,

Dan meledakan perut laki-laki hamil enam enam

(Pelajaran Membunuh Orang, Taufik Ismail)

Televisi dan anak

Penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) pada tahun 2006 menunjukan bahwa jumlah menonton TV pada anak-anak usia sekolah dasar berkisar antara 30-35 jam selama seminggu, ditambah dengan sekitar 10 jam untuk bermain video game. Obesitas waktu untuk remaja dan anak. Dalam setahun , jumlah jam menonton TV ini mencapai lebih dari 1500 jam. Bandingkan dengan jumlah jam belajar di sekolah dasar negeri selama 1 tahun yang hanya sekitar 750 jam.

Hal yang sangat membuat galau saat menyaksikan tayangan-tayangan televise. Rata-rata program acara televise, terutama sinetron ,mengandung unsure-unsur kekerasan(sadisme), pornografi,mistik dan kemewahan (hedonisme). Program-program acara tersebut terus berlomba untuk mendapatkan rating yang tinggi tapi tidak memperhatikan dampak bagi audiencenya. Apalagi tayangan-tayangan tersebut sangat mudah dikonsumsi anak-anak.

Menurut Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia rata-rata anak usia sekolah dasar menonton televise antara 30 hingga 35 jam tiap minggu. Artinya . pada hari-hari biasa, mereka menonton televise 4 hingga 5 jam dalam sehari. Sedangkan di hari Ahad, bisa mencapai 7-8 jam. Jika rata-rata menonton televise 4 jam dalam sehari berarti setahun sekitar 1.400 jam sampai 18.000 jam sampai seorang anak lulus SLTA. Hal ini berarti anak-anak meluangkan lebih banyak waktu untuk menonton televise daripada aktivitas apapun,kecuali tidur.

Hal yang lebih menggalaukan lagi, mayoritas orang tua tidak sadar dengan menu tidak sehat yang disajikan media untuk anak-anak. Tidak ada pengawasan dari orang tua saat anak-anak mengkonsumsi televise, sehingga sangat mengkhawatirkan terhadap perkembangan anak. Tapi tidak reaksioner juga, dengan mengeneralisir semua acara televise berdampak buruk untuk anak-anak. Masih ada acara yang berdampak baik untuk perkembangan anak tetapi jumlahnya sedikit.

Banyak anak yang meniru apa yang mereka lihat di televise. Diakui bahwa televise berdampak buruk bagi anak, tetapi melarang mereka menonton sama sekali juga kurang baik. Lebih bijaksana bila orang tua mengontrol tayangan televise bagi anak. Dengan cara, memberikan pemahaman kepada anak, acara apa yang boleh ditonton . saat menonton orang tua juga perlu mendampingi anak saat menonton tv, untuk memberikan pemahaman terkait tayangan yang ditonton.

Keluarga merupakan tempat pendidikan yang paling utama, dan orang tua sebagai yang bertanggung jawab. Karena orang tua lebih dekat dan dapat mengawal anak lebih lama. Komunikasi yang terbangun dengan baik antara orang tua dan anak dapat meminimalisir dampak negetif dari televise. Perkembangan anak tidak bisa dibebankan ke sekolah, bagaimanapun peran orang tua tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh guru.

Media literacy

Media literacy adalah keterampilan yang perlu dimiliki oleh siapapun agar dapat mengkonsumsi media dengan kritis dan bijaksana. Ada lima konsep kunci dalam media literacy :

  1. semua isi pesan media dikonstruksi / disusun dengan maksud tertentu oleh si pembuat pesan
  2. pesan media disusun dengan cara dan gaya tertentu untuk menarik perhatian konsumen
  3. pesan yang sama bisa dimaknai berbeda karena perbedaan latar belakang pendidikan dsb
  4. media menggunakan nilainya sendiri dan ada kemungkinan mengabaikan niali orang kebanyakan.
  5. pesan media dikemas sedemikian hingga si pembuat pesan mendapat profit dan kekuasan tertentu.

Media literacy dapat diwujudkan melalui pendidikan media, tujuan dari pendidikan media adalah menjadikan seseorang melek media(media literate). Harapannya anak yang sudah menjadi media literate, mereka bisa :

  1. dapat memahami dan mengapresiasi isi pesan yang dikonsumsi
  2. dapat menyeleksi isi media yang dikonsumsi
  3. tidak mudah terkena dampak negative
  4. dapat mengatur kapan waktu mengkonsumsi media dan membatasi jumlah jamnya
  5. dapat mengambil manfaat dari isi media yang dikonsumsi

Melesatnya perkembangan teknologi media informasi, harus dibarengi juga dengan kemampuan manajemen konsumsi media. Agar media tidak memberikan dampak buruk tapi justru mendatangkan banyak manfaat. Dan kemampuan ini, harus mulai diajarkan sejak dini. Kalau dapat diibaratkan, dampak buruk media seperti virus, dan dapat dicegah dengan vaksin. Meskipun kadang tetap terkena virus itu, pointnya adalah kita ada usaha untuk mencegah virus dan tentu diiringi dengan upaya menjaga kesehatan bermedia.

Masa depan bangsa,ditentukan oleh kualitas generasi saat ini. Kondisi media sekarang, membuat galau, bagaimana kualitas generasi ini nantinya? Mari bergerak, Wujudkan generasi cerdas bermedia!  Belajar tentang konsep murotibul ‘amal dari Hasan Al Banna bahwa untuk menjadi guru peradaban (ustadiyatul ‘alam) dimulai dari pembentukan diri sendiri, keluarga islami, masyarakat bermartabat, negara yang adil dan sejahtera. Semua butuhkan proses dari awal (pebentukan syakhsiyah islamiyah). Dan peran yang paling minimal bisa kita lakukan adalah menjadikan diri kita berkepribadian Islam dan menjadikan orang lain sama seperti kita.

Salam Cerdas Bermedia!

Referensi :

Ariana, Fatma.2005.Cinta Seorang Perempuan. Bandung:Syamil

Musbikin, Imam.2009.Anakku Diasuh Naruto;Positif ataukan Negatif manga/anime Naruto bagi Perkembangan Kesehatan dan Kualitas Psikologis Anak Anda?.Yogjakarta:Diva Press

Brosur Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA):Pendidikan Media; Membangun Sikap Kritis Anak Dalam Menggunakan Media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s