“melingkar”


Jujur dari hati yang terdalam, alasan saya kenapa pulang duluan dari agenda di Depok dan segera kembali ke Purwokerto adalah karena ada agenda rutin pekanan yaitu ”melingkar”. Selain juga karena diminta untuk mengisi dauroh. Mengisi dauroh bisa digantikan oleh orang lain yang berkompeten, tapi kalau “melingkar” mana bisa minta ganti orang? Sebisa mungkin dan akan sangat-sangat saya usahakan sekali untuk hadir di majelis itu. Selalu mengagendakan sesuai dengan kesepakatan pekan lalu, sebelum majelis itu ditutup.

“Melingkar” atau agenda rutin pekanan , saya gunakan untuk menggantikan kata liqo’. Entah sejak kapan saya mulai mengikuti dengan rutin agenda ini. Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) mungkin ya? Hanya saja saat itu tidak sadar bahwa aktivitas yang sedang dijalani itu namanya liqo’. Dalam tiap pertemuan ada tilawah qur’an, hafalan, materi dari kakaknya. Tiap ahad pagi subuh jamaah di masjid terus olahraga bareng. Kadang juga kita agendanya, gambar dan mewarnai aja.hehe…Pernah juga jalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan, itu terakhir perpisahan dengan beliau. Murabbi (MR) pertama saya ikhwan lho, beliau dulu siswa SMK dan kemudian lulus. Sayang sekali saya kehilangan jejaknya sampai sekarang. Kabar terakhir beliau di Lampung, pernah sekelompok mengirimkan surat ke alamat yang pernah dikasih . Tapi tidak pernah datang balasan. Ah,  pak pos mungkin salah alamat ya! Hanya ingin menunjukan kalau saya istiqomah,tapi sedih teman satu kelompok semuanya berguguran. Hanya saya yang tersisa.

Sudah berapa tahunkah saya mengikuti proses tarbiyah ini? Mungkin sudah 10 tahun lewat. Ini menjadi refleksi buat diri, sudah lebih baik kah? Dari sebelum-sebelumnya. Karena hakikat tarbiyah itu adalah proses untuk menjadi lebih baik. Kadang terbersit untuk keluar saja dari jalur tarbiyah ini. Tapi selalu ingat pesan MR : ” Allah swt cuma menciptakan dua jalan. Faal hamaha fujuraha wa taqwaha. Fujur atau taqwa? Tidak ada tengah-tengah”. Dan beliau membekali saya buku Risalah Pergerakan I karya Imam Hasan Al Banna.

Waktu pertama kali kuliah, saya berfikir ingin menjadi anak kuliah seperti orang kebanyakan saja. Referensi saya, televisi.hehe… Tidak berpikir tentang dakwah, umat, tarbiyah dan segala hal yang berkaitan dengan itu. Hanya menikmati kuliah, dan kemudian jadilah sarjana. Apalagi di Purwokerto ini, saya tidak kenal siapa-siapa, seandainya saya berubah seperti yang saya inginkan pasti tidak ada yang tau. Yakin juga, saya bukan orang yang terdeteksi sebagai kader liqo’ oleh kakak kelas saya disini. MR saya saat itu sibuk, karena memang ummahat. Mengurusi keluarga ,masih punya baby dan ikut mengurus perekonomian keluarga.  Kata beliau,” datang ke kantor yang di Rawamangun, nanti dibuatkan surat transfer oleh pengurusnya”. Okelah dengan niat baik, saya bersama kawan ke kantor yang ditunjuk. Sayangnya, timingnya tidak tepat. Ketika ada di depan kantor itu,ada bapak-bapak yang keluar bertanya ” mau apa ?”

”Mau bikin surat transfer, pak”

Dengan tidak ramah bapaknya jawab, ”aktivitas tarbiyah dan kantor baru mulai 10 hari (seinget saya..rada lupa) setelah lebaran idul fitri”

Saat itu saya lupa, udah H+5 yang jelas belum bisa diterima harus menunggu sampai waktu yang ditentukan itu. Ya sudahlah, tidak ada waktu lagi. Aktivitas perkuliahan segera dimulai dan harus mempersiapkan. Saya ke Purwokerto tanpa surat transfer.

Aaah… ternyata saya tidak bisa lepas begitu saja dari aktivitas tarbiyah. Bersyukur Allah masih menginginkan saya dalam barisan ini. Ketika di Purwokerto, saya justru bertanya dan berusaha mencari jawaban, bagaimana saya bisa ”melingkar” lagi disini??

Saya tidak pernah punya riwayat masuk pesantren tapi insya Allah selalu berusaha seperti santri-santri itu. Aktivitas di luaran yang cetar membahana, membuat diri ini butuh charge ruhiyah, alarm pengingat, ataupun rem penjaga agar tidak mudah layu bergerak dan tidak berlebihan dalam bertindak.

Setiap pekan merindukan ”melingkar”, entah sudah berapa kali berganti Murobbi berganti dan  kelompok ”melingkar”. Karena sebenarnya bukan dengan siapa kita menuntut ilmu tapi pada apa dan bagaimana.

Tak sependapat dengan kawan seperjuangan itu biasa, justru membuat kita saling memahami. Berdoa pada Allah swt, agar diisiqomahkan untuk terus ”melingkar” seperti ini. Disini dapat bekal ruhiyah dan bekal bergerak. Tak hanya materi , tilawah atau hafalan yang dilakukan. Disini saling berbagi, bercerita, bergerak bersama. Disini ditawarkan ukhuwah yang indah. Layaknya Rasulullah SAW, membina para sahabatnya di rumah Arqam bin Abi Arqam. Mempersiapkan kejayaan Islam dari ”melingkar” itu.

Kadang diri terlalu menuntut MR atau kawan-kawan se-lingkaran sesuai dengan pikiran ideal saya. Disadari memang saya agak kerasa dengan pendapat yang dipunya dan saya akan dengan mudah memperlihatkan ketidaksukaan.  Perlahan saya mulai rubah, agar tidak ada yang merasa tersakiti. Kadang saya sms kawan, ”apa kata-kata sms ane barusan ga sopan,ukh?”

Jazakillah buat semua yang terlibat dalam proses ”melingkar”ini. Kadang dalam hati saya menuntut, ko ”melingkar” ga ada materi? Ko tiba-tiba MR pergi ke luar kota? Padahal ya itu kadang saya bela-belain pulang dari rumah atau dari luar kota hanya untuk ”melingkar”. Ko jamnya berubah dengan kesepakatan sebelumnya? Padahal sudah diagendakan dan pasti punya janji agenda lain selain ”melingkar”. Ko kawan-kawan satu kelompok dengan mudah ga datang ”melingkar” tanpa alasan syar’i menurut saya. Saya bilang, menurut saya ya..ini pakai kacamata saya. Jadi silahkan tidak setuju.

Dinamika ”melingkar” kadang sadar atau tidak bisa memfuturkan diri, mulai ada permakluman, mulai permisif , maka akan terus hilanglah militansi itu, akan terus hilanglah militansi itu.

Pernah, berangkat” melingkar” naik motor berdua kawan dan hujan-hujan. Romantis banget yah, dan ga akan lupa momen itu. Ini karena ga bawa mantel aja sih dan udah di jalan menuju rumah tarbawi. Pulangnya pasti lihat kunang-kunang.nice😀

”melingkar” adalah kuliah peradaban, maka sebagai seseorang yang menginginkan peradaban ini kembali kepada peradaban Islam bersemangatlah untuk meng-upgrade kapasitas diri. Dan ”melingkar” menjadi salah satu sarana pentingnya.  Ini pesan buat diri sendiri yang kadang protes  :Jangan terlalu menuntut MR atau kawan-kawan se-lingkaran karena hakikatnya :

” melingkar” itu peningkatan diri

”melingkar” itu saling menjaga

”melingkar” itu tumbuh bersama

 

Tarbiyah bukan segala-galanya tapi dari tarbiyah segalanya bisa bermula. Semangat memperbaiki diri.  Semangat ”melingkar”! Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s