Pergantian


Flashback

Saya tau apa rasanya berada di depan ruang “sidang regenerasi”. Sidang menentukan pemimpin organisasi berikutnya. Menemukan orang yang tepat untuk diberi tongkat estafet kepemimpinan. Judul agendanya memang musyawarah, tapi tetap saja mekanisme sidang yang digunakan. Ada pimpinan sidang dan tata tertib yang harus ditaati bersama. Masih ingat momen 22 April 2011, saat itu seperti sedang diadili. Saya dan tiga ikhwan di depan ruang sidang regenerasi, memaparkan visi dan misi. Ya, kami adalah calon ketua umum. Kawan-kawan menyakini kami adalah orang yang pantas untuk menerima tongkat estafet kepemimpinan berikutnya. Sungguh saat itu yang membuat saya bersedia dicalonkan adalah komitmen seorang kader sebelum ke marhalah berikutnya : Siap menjadi pimpinan organisasi!. Seharusnya memang sudah menyiapkan diri tapi jujur saat itu saya tidak siap seandainya benar-benar menjadi ketua umum. Apalagi membayangkan pertanggungjawabannya. Saya menilai kawan-kawan lain yang dicalonkan lebih layak dan untuk menjadi pemimpin mungkin nilai plus mereka, mereka adalah seorang ikhwan (laki-laki). Sepertinya yakin saja tidak terpilih.

Pernah dengar hadist yang mengatakan ” Tidak akan pernah berhasil suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang perempuan” . Tapi dalam sebuah buku saya baca bahwa pandangan Dr. Yusuf Qardhawi, hanya ada dua bentuk kepemimpinan yang tidak boleh diserahkan kepada perempuan, yaitu kepemimpinan dalam rumah tangga dan kepemimpinan dalam wilayah umum. Representasi kepemimpinan umum (al wilayah al amanh, al imamah al uzhma, al imamah al kubra) pada zaman dahulu adalah Khalifah atau pemimpin Daulah Islamiyah.

Jadi cemas. Entah proses sidang seperti apa yang terjadi di dalam ruangan itu, yang jelas deadlock dan diserahkan kepada para calon ketum untuk musyawarah menentukan siapa pemimpin berikutnya. Subhanallah sekali, semua calon saling merendah diri dan memberikan kesempatan saudaranya untuk beramal. Termasuk saya🙂 . Lupa bagaimana proses musyawarah yang terjadi dan akhirnya pertanyaan ”who the next leader?” itu terjawab : saya! Ba’da sholat maghrib, saya dilantik. Hanya berharap kawan-kawan yang hadir dan seluruh kader, benar-benar membantu saya menyelesaikan amanah ini. Saya menangis sejadinya, biar pada sadar kalau saya ini masih akhwat..hehe Ingat pesan MR

“orang yang diberi amanah itu adalah yang bisa menunjukan potensinya dan diberi kesempatan untuk menggali potensinya yang belum muncul”.

Mulailah ucapan selamat beserta doa dan tausyiah masuk ke handphone. Ini makin menyadarkan bahwa saya punya status baru : Ketua Umum. Berdoa pada Allah : semoga kerja dakwah yang kecil ini selalu diberkahi dan menjadi kendaraan menuju jannahNya. Setahun. Amanah itu selesai. Banyak kekurangan dimana-mana. Semoga Allah memaafkan kekhilafan saya selama menjalankan amanah.. Minimal saya bisa berbagi kisah buat generasi saya nanti. Wallahu a’lam.

Keniscayaan

Pergantian akan terus terjadi di tubuh organisasi. Generasi berikutnya harus siap menerima estafet kepemimpinan. Ini adalah sebuah keniscayaan. Karena dakwah harus selalu hidup meski para pelaku dakwahnya berganti. Li kulli marhalatin ahdafuha,li kulli marhalatin rijaluha (dalam tiap tahapan dakwah memiliki tujuan dan rijalnya masing-masing). Tertarik untuk menuliskan flashback di atas karena baru saja selesai proses regenerasi kampus lewat muktamar, muskom dan pemira. Setiap ada sidang regenerasi , selalu yakin bahwa mereka yang terpilih adalah kader terbaik. Bisa menjadikan organisasi yang dipimpinnya lebih baik, lebih membawa kemashalahatan untuk umat. Saya selalu berdoa pada Allah : semoga Allah selalu memberkahi para pengemban amanah dakwah, permudah dan perlancar segala urusan mereka. Mendapat kabar bahwa regenerasi pemerintahan mahasiswa di dua fakultas juga sudah selesai. Ini pertolongan Allah kawan dan ingat ini bukan tujuan kita untuk mendapat amanah kepemimpinan ini. Kemenangan ini adalah sarana untuk tujuan lain yang lebih mulia, yang lebih banyak mendatangkan kebermanfaatan.

Sesungguhnya , kemenangan yang diberikan kepada kaum muslimin adalah karena kemaksiatan musuh-musuhnya. Tanpa itu, kita tidak mungkin menang, karena jumlah kita tidak seperti jumlah mereka yang lebih banyak; dan persiapan kita tidak seperti persiapan mereka yang matang. Oleh karena itu, jika kita bermaksiat,itu artinya mereka mempunyai nilai lebih dari kita dengan kekuatan merreka. Kita tidak mengungguli mereka kecuali dengan ketaqwaan, karena tidak mungkin kita mengalahkan mereka hanya dengan kekuatan kita (Perkataan Umar Bin Khattab kepada komandan perangnya, Sa’ad bin Abi Waqqash)

Saya mengucapkan barakallah, selamat atas terpilihnya kader-kader terbaik sebagai pimpinan organisasi :

Tatang Pamungkas sebagai Ketua Umum UKKI Unsoed 2012/2013

Budiyono sebagai Presiden BEM Fapet Unsoed 2012/2013

Akhmad Fariz sebagai Presiden BEM Teknik Unsoed 2012/2013

Siti Umi Kulsum sebagai Ketua Umum KAMMI Komsat STAIN Khaliq bin Walid 2012/2013

Menjaga keprofesionalitasan itu penting. Semoga selalu berada dalam penjagaan Allah swt. Ditunggu karya menakjubkannya! Selamat beramal saudaraku!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s