Resolusi Keuangan di Awal Tahun


Sangat baik jika awal tahun dijadikan sebagai resolusi atau menata kembali kehidupan secara menyeluruh. Tahun lalu, pasti banyak pelajaran yang dapat dipetik. Itu bisa menjadi bekal untuk menjadikan diri lebih baik di tahun ini. Setiap peristiwa yang kita lalui memiliki makna, tinggal kita biasa atau tidak menemukan makna itu.
Sebelum merubah lingkungan jadi lebih baik. Alangkah baiknya, kita merubah diri kita terlebih dahulu menjadi lebih baik. Belajar peka, kemudian mengambil makna dari setiap proses kehidupan yang kita lalui.
Awal tahun dan keuangan
Resolusi keuangan menjadi hal yang penting. Benar kata pakar keuangan, Safir Senduk, bahwa permasalah utama pada keuangan adalah defisit. Uang memang berharga tapi kadang jumlah nominal uang yang banyak, tidak menjadi jaminan bahwa kita adalah orang yang berkecukupan. Seorang pejabat, bisa saja bilang ”gaji yang saya miliki masih kurang”. Padahal kita tahu para pejabat di sana, gajinya jutaan rupiah bahkan puluhan juta. Sedangkan seorang bakul jamu keliling, yang penghasilannya pas-pasan bisa jadi menganggap rezeki yang dia miliki sekarang sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Bisa disepakati bahwa uang tak hanya dinilai dari jumlah nominal yang banyak tapi juga dari seberapa hebat kita mengelola keuangan. Penghasilan yang kita miliki harus balance dengan pengeluaran tapi tak lupa juga disishkan untuk saving.
Mungkin setahun yang lalu keuangan kita defisit. Kata pepatah, lebih besar pasak daripada tiang. Pengeluaran lebih besar daripada penghasilan. Boro-boro memikirkan saving, utang saja dimana-mana. Kita tentu sudah paham, pos-pos pengeluaran rutin kita apa. Sekarang mulailah untuk mencatat, penghasilan tetap kita berapa dan pengeluaran rutin kita untuk apa saja. Ini penting, apalagi buat teman-teman mahasiswa yang sebagian besar masih mengandalkan kiriman uang dari orang tua. Bukan tidak mungkin, teman-teman juga bisa saving. Pencatatan dalam sebuah perencanaan keuangan sangat penting, karena kadang kita lupa dan itu fatal.
Pasti kita akan tersadar bahwa ternyata kita bisa saving, menabung meskipun sedikit untuk masa depan kita. Alangkah baiknya ketika kita sudah mengetahui penghasilan tetap dan pengeluaran rutin, kita langsung pos kan dana untuk saving. Setelah itu, mencicil membayar utang atau lebih baik bisa melunasinya kemudian kita bisa memposkan dana untuk pengeluaran tak terduga kita dan tak lupa menyisihkan untuk orang-orang yang tak mampu.
Lifestyle atau gaya hidup menentukan arus keuangan kita. Dua orang yang memiliki jumlah penghasilan sama, bisa jadi yang satu mampu saving sedang yang satu memperbanyak utang. Semua tergantung gaya hidup kita. Berpikirlah panjang ke depan mulai dari sekarang, terutama untuk teman-teman mahasiswa. Kalau sekarang kita masuk kuliah dan kemudian empat tahun kita lulus. Seandainya tiap bulan, teman-teman bisa menabung Rp.100.000 saja maka ketika kita lulus kita mempunyai tabungan Rp. 4.800.000. Nominalnya cukup besar, bisa dijadikan modal untuk memulai kehidupan yang baru di luar dunia kampus.
Perempuan dan Genderalisasi Masalah Uang
Sosok perempuan sering diidentikkan dengan pintar mengelola keuangan dan dicap lebih hobi berbelanja dari kaum laki-laki. Sebenarnya terkait berbelanja, perempuan dan laki-laki sama saja, sama-sama tidak terkontrol. Hanya saja perempuan sudah tercitrakan mampu berdiri berjam-jam dan bercapek-capek ria untuk berbelanja di pasar ataupun mall.
Menurut Ahmad Ghozali, penulis buku Cash Flow  for Women, menjadikan perempuan sebagai manajer keuangan keluarga paling top. Terbukti tak hanya di keluarga di berbagai kepanitiaan dan organisasi sebagian besar pengelola keuangan atau bendahara adalah perempuan. Bahkan menteri keuangan negara Indonesia tercinta ini adalah perempuan.  Karena perempuan dianggap memiliki perhitungan keuangan yang mantap.
Para perempuan hendaknya belajar untuk mengelola keuangan dari sekarang dan dari diri sendiri. Karena suatu saat, minimal kita akan menjadi manajer keuangan keluarga atau bahkan menteri keuangan negeri ini. Jangan over konsumtif, karena sadar atau tidak perempuan menjadi objek kapitalisme yang sangat empuk. Perempuan merupakan penduduk mayoritas dunia ini.
Semoga apapun yang kita rencanakan tahun ini akan berjalan dengan sukses. Awal tahun baru selalu membawa semangat baru dan semoga semangat itu tetap ada hingga bertemu tahun baru lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s