Sudahkah Kita Tarbiyah? Refleksi Seorang Mutarabbi (Eko Novianto)


 

Pertama, kita sudah tarbiyah jika kita terbuka terhadap perubahan.Kita telah tertarbiyah ketika kita mengembangkan sikap terbuka tehadap perubahan. Hasil akhir dari semua proses pembelajaran adalah perubahan. Efektifitas tarbiyah patut kita pertanyakan ketika kita menganggap diri kita telah purna atau setidaknya merasakan keletihan dalam berubah.

Dalam beberapa kasus, insan tarbiyah ‘terlanjur’ besar dalam kondisi tertentu dan sulit berubah ketika kondisi telah berubah. Perasaan telah menjadi sesuatu yang besar itulah yang membunuh tujuan akhir dari tarbiyah.

Kedua, kita sudah tarbiyah jika mampu bersikap tegas dan menghindarkan diri dari sikap agresif. Menjadi insan yang tegas tidak harus menumbuhkan agresivitas. Menolak praktik syirik, menolak kemaksiatan, mempertahankan strategi dakwah, menjelaskan tujuan dakwah, dan menegakkan disiplin memang membutuhkan ketegasan tapi tidak membutuhkan agresivitas. Oleh karena itu, produk tarbiyah adalah insan yang tegas dalam prinsip, memiliki determinasi yang tinggi, sabar dan ulet serta tidak dapat diprovokasi untuk melakukan tindakan yang kontraproduktif.

Ketiga, kita sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang proaktif. Kita tarbiyah ketika proaktif dalam hal-hal yang bermanfaat. Penanggung jawab proses pemberdayaan adalah pendidik dan memang tidak dapat digeser kepada pihak lain. Tetapi, pernyataan tersebut tidak dapat diartikan hujah bagi sikap pasif seorang binaan (mad’u). Nabi Muhammad SAW berpesan, “Bersunguh-sungguhlah kamu dalam hal yang memberikan manfaat dan janganlah kamu lemah/mudah menyerah”.

Keempat, kita sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang memiliki sikap mawas diri. Proses tarbiyah dengan segenap sarananya harus sangat dekat dengan pelajaran mawas diri dan tidak mudah menyalahkan orang lain serta memiliki kecukupan sarana latihan untuk menekan sikap takaburnya terhadap orang lain.

Karena, komunitas tarbiyah adalah komunitas manusia dengan segenap keunggulan dan sekaligus sisi kelemahannya. Interaksi kemanusiaan ini memang potensial menonjolkan kelemahan orang lain dan menyembunyikan kelemahan diri.

Kelima, kita sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang mandiri. Kita tarbiyah ketika menjadi insan yang mandiri dan merdeka, bukan manusia yang tergantung pada orang lain.

Keenam, kita sudah tarbiyah jika kita adalah sosok yang berperasaan, tetapi tidak emosional. Kita tarbiyah ketika tarbiyah menjadikan hati dan perasaan kita hidup tanpa terjebak dalam sikap emosional. Kita juga siap menghadapi ujian dan tidak cengeng menghadapi ujian serta tidak mudah terpukul oleh sebuah kegagalan.

Ketujuh, kita sudah tarbiyah jika jika sanggup belajar dari kesalahan.Sebagai manusia, manusia tertarbiyah tentu tidak terbebas dari kesalahan. Ia tetaplah manusia yang mungkin salah. Justru penyikapan seseorang terhadap kesalahan yang dilakukannya itulah yang menjadi indikator apakah ia tarbiyah atau tidak. Seseorang yang tertarbiyah adalah seseorang yang menjadikan kesalahan yang dilakukannya sebagai salah satu cara terbaik untuk belajar.

Kedelapan, kita sudah tarbiyah jika hidup di masa sekarang bersikap realistis dan berpikir relatif. Kita tarbiyah ketika tidak menjadi bagian dari masa lalu, mampu bersikap realistis, berpikir secara relatif dan tidak mutlak-mutlakan serta memiliki kepercayaan yang tinggi. Yang dibutuhkan dunia adalah pribadi yang mampu berpikir realistis dan memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan konsep atau idealismenya di dunia ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s