Amirul Mukminin itu Mengajarkan Kesederhanaan Kepada Puterinya


 

Amirul Mukminin itu segera menegur putrinya. Ketika mendengar, ia membeli cincin permata seharga seribu dirham. Khalifah Umar bin Khattab ra, seorang amir, yang menurut pandangan masyarakat saat ini. Para pemimpin atau pejabat sangat pantas memiliki sesuatu yang sangat lebih “wah” dari rakyatnya. Tapi Amirul Mukminin itu berbeda. Menegur putrinya lewat sebuah surat.

“Aku mendengar bahwa engkau membeli cincin permata seharga seribu dirham. Kalau itu benar maka segeralah jual cincin itu…”

Bagaimana jika itu terjadi pada kita? Cincin permata yang kita idam-idamkan dan mungkin harus menabung dulu beberapa waktu untuk dapat membelinya. Berat hati. Tidak ikhlas. Harus merelakan barang kesayangan, apalagi yang sangat “wah”. Berpikir dua kali bahkan bisa berkali-kali untuk meeksekusinya.

“…dan gunakanlah uangnya untuk mengenyangkan seribu orang lapar. Lalu buatlah cincin dari besi dan ukirlah kata-kata, Semoga Allah merahmati orang yang  mengenali drinya”

Sang Khalifah mengingatkan untuk mengenali diri kita agar senatiasa dirahmati oleh Allah. Mengenal diri dan hakikat sebagai seorang hamba Allah dan manusia sosial. Khairun nas anfaahum linnas. Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.  Cincin besi itu lebih baik daripada cincin permata. Cincin besi yang diiringi dengan perasaan bahagia seribu orang lapar. Cincin permata itu hanya memuaskan nafsu kita.

Perasaan puas ketika memiliki suatu barang apalagi yang “wah” adalah fitrah untuk tiap manusia. Ada rasa memiliki dan ada rasa bahagia tersendiri. Seperti firman Allah Swt. Dijadikan indah pada pandangan manusia( terjemahan QS. : ?) Pada pandangan manusia bukan pandangan Allah Swt! Sedang yang berhak menilai segala ibadah kita, hanya lah Zat Yang Maha Pemurah, Allah Swt.

Ramadhan, bulan yang penuh dengan keberkahanNya telah berakhir. Ramadhan yang telah mentarbiyahi diri kita, untuk lebih peka merasakan nasib saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Menahan nafsu dari subuh hingga berkumandang adzan maghrib. Hanya kita dan Allah swt saja yang tau, kalau bukan karena keimanan tentu kita sudah menyerah. Ramadhan menginsafi kita, tentang habluminallah (hubungan kita dengan Allah) dan hablumninnas (hubungan kita dengan sesama manusia).

Masihkah membekas tarbiyah Ramadhan? untuk lebih peduli pada sesama, untuk semangat berbagi, untuk selalu merasa diawasi oleh Allah Swt. Semoga masih ada dan akan terus ada hingga bertemu dengan Ramadhan kembali. aamiin. Atau justru memaknai kemenangan setelah Ramadhan adalah dengan ‘berpesta pora’? dengan semua yang serba baru, semua yang serba ‘wah’. Mulai dari baju baru, sofa baru, cat rumah baru. Makanan yang enak-enak, yang sebelumnya tidak ada diada-adakan. Lengkap. Ada ketupat, daging rendang, opor ayam, udang asem manis. Apalagi? Minumannya, ada minuman berkarbonat kah? Ada sirup atau yang lainnya? Ada yang kurangkah?. Subhanallah, begitukah hasil tarbiyah di bulan Ramadhan selama sebulan? Tidakkah kita ingat dengan sabda rasulullah SAW, “Yang sedikit mencukupi, lebih baik daripada banyak yang membawa rugi”.

Sifat kesederhaan telah diajarkan Rasulullah SAW pada kita, selain bersederhana dalam beribadah juga bersederhana dalam berkehidupan sehari-hari. Tidak berlebihan, cukup, seimbang dan yang tak kalah pentingnya adalah menentramkan. Rasulullah SAW tak pernah memaksakan kita untuk beribadah dengan ’mewah‘ seharian tapi menyeru kita untuk tetap bersikap seimbang dengan kehidupan dunia, tentu dengan sederhana juga.

Bisa jadi parameter kesederhanaan tiap kita berbeda-beda. Maka tanyalah pada diri sendiri, apakah bisa disebut sederhana? Ketika semua pemenuhan kebutuhan kita sehari-hari, bukan karena benar-benar butuh. Tapi hanya ingin memenuhi nafsu keinginan kita saja. Tidak butuh, hanya ingin saja. Atau mungkin sempat terbersit ingin meningkatkan prestige di mata masyarakat sekitar, lewat  barang ‘wah’ yang kita miliki. Abbas r.a berkata, “Umumnya sifat manusia terhadap orang kaya lebih cerah daripada sinar matahari, kedudukannya di sisi lebih segar daripada air tawar lebih tinggi daripada langit, lebih manis dari madu dalam sarngnya dan lebih harum dari pada bunga mawar. Kesalahnnya selalu dianggap benar dan semua keburukannya dianggap sebagai ucapan yang bisa diterima, dalam majelis dia terhormat dan omongannya tidak pernah menjemukan”.

Khalifah Umar bin Khatttab r.a, sang pemimpin kaum muslimin ini mengajarkan kepada putrinya akan kesederhanaan. Cincin besi yang bisa membahagiakan seribu orang lapar akan jauh menentramkan daripada cincin permata yang hanya memuaskan nafsu keinginan diri sendiri. Keduanya sama berfungsi sebagai aksesoris. Beliau sangat memahami perasaan masyarakat sekitarnya, kalau saja anaknya benar-benar barang ‘wah’. Akan semakin membuat jurang bertambah lebar antara rakyat dan pemimpinnya, antara yang mampu dan tidak mampu. Akan semakin menumbuhkan kesenjangan sosial. Di akhir, amirul mukminin mengatakan “Semoga Allah merahmati orang yang  mengenali dirinya”. Diri yang memahami hakikat dirinya sebagai hamba Allah swt, bahwa dunia ini adalah persinggahan. Hanya untuk mengumpulkan sebaik-baik bekal, bukan kehidupan yang kekal. Kampung akhirat adalah kehidupan seseungguhnya.

Kesederhaan selamanya akan melahirkan ketentraman. Tak akan ada yang iri atau dengki terhadap harta yang kita miliki, karena memang kita hidup sederhana. Tak berlebihan. Menentramkan dan kemudian membahagiakan. Tak terlalu sibuk menjaga harta, karena memang tidak berlimpah. Hanya cukup.

Ramadhan, bulan tarbiyah. Semoga kita termasuk dalam lulusan terbaik Ramadhan. Tetap memaknai Ramadhan hingga bertemu Ramadhan kembali. Semangat berbagi itu terus ada, memahami kondisi saudara-saudara yang kurang mampu terus terasa. Agar kita bisa menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh kesederhanaan. Kesederhanaan melahirkan ketentraman dan kemudian akan melahirkan kebahagiaan.

Mari memaknai ucapan Abu Darda, “Kebaikan bukanlah karena banyaknya harta dan anak ketrurunan tetapi kebaikan yang sesungguhnya adalah bila semakin besar rasa santunmu, semakin bertambah ilmumu, dan kamu berpacu menandingi manusia dalam mengabdi kepada Allah swt”. Wallahu a’lam [fhs]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s