Bagaimana Menyentuh Hati (Ath-Thariq ilal Quluub) – Abbas As-Siisiy


Perhatikan tongkat sinyal di stasiun kereta api. Dengan menggerakkannya sedikit, rel akan bergeser, dan perjalanan kereta api pun berubah arah. Demikian halnya dengan hati. Gerak hati akan menentukan arah kehidupan seseorang.

Saat berdakwah, ingat bahwa kita sedang memberikan hadiah kepada orang lain, maka kita harus mempertimbangkan hadiah apa yang sekiranya patut diberikan dan bagaimana cara memberikannya.

Allah swt. berfirman,

“Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku Iemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu berlaku keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekelilingmu.” (Ali Imran: 159)

Ada tiga karakteristik manusia, yaitu manusia yang berperilaku dengan Akhlaq Islamiyah, Akhlak Asasiyah, dan Akhlak Jahiliyah.

Walaupun kita memberikan segenap hati kita untuk mengajak mad’u kita, tetapi hanya Allah-lah yang berhak membolak-balikkan hati orang tersebut. Langkah awal untuk saling mengikat hati adalah dengan menghafal nama. Sarana dakwah: Senyum, Salam, cari tahu saat tidak kelihatan, menjenguk saat sakit, memenuhi undangan, menjawab atas tahmid dan bersin, serta mengantar ke makam saat meninggal dunia. Setia semasa masih hidup dan setelah mati. Seluruh hal itu merupakan pintu menuju hati.

“Tiga hal yang dapat membuat kecintaan saudaramu terhadapmu menjadi tulus (hanya karena Allah) ialah, lebih dahulu mengucapkan salam, memanggilnya dengan panggilan yang ia sukai, dan memberikan tempat duduk dalam satu majelis.”

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda,

“Setiap angota badan manusia diwajibkan mengeluarkan sedekah setiap hari di mana matahari terbit. “Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kita dapat bersedekah?” Rasul menjawab, “Sesungguhnya pintu untuk berbuat baik itu sangat banyak. Bertasbih, bertakbir, dan bertahlil adalah sedekah; menyingkirkan duri di jalanan adalah sedekah; menolong orang tuli atau buta adalab sedekah; dan menunjukkan orang yang kebingungan, menolong dengan segera orang yang sangat memerlukan adalah sedekahmu terhadap dirimu.”

Penampilan dan akhlak yang baik akan membuat orang yang baru saja memandang menjadi tertarik dan simpati. Berilah pandangan kasih sayang. Balaslah keburukan dengan kebaikan. Dan tidak ada paksaan dalam agama.

Dakwah fardiyah adalah menyentuh inti permasalahan dan memberikan kesempatan lebih luas dalam berdialog yang bebas dan tenang, atau dalam bahasa dakwah “billati hiya ahsan“, sehingga dapat saling tukar pandangan dan adu argumentasi. Dakwah fardiyah adalah pangkal dari Dakwah Jama’iyah.

Ada dua metode dakwah. Dakwah tanpa kata-kata = menjadi teladan yg baik sehingga menjadi ‘kitab yang terbuka’. Jika dakwah dengan kata-kata, pahami kaedahnya, karena berbeda antara satu dengan yang lain.

Optimisme yang penuh senyum dan lapang dada dan manfaatkan kesempatan untuk menghidupkan yang mati. Contoh: kebiasaan ngaji rutin trah.

Seorang da’i yang sukses adalah yang mendapat petunjuk Allah ke tempat persembunyian perasaan yang mampu mengharu biru hati manusia (magnet hati), sehingga menambah kekuatan dan gairahnya.

Da’i =/= penceramah. Penceramah bertugas menunjukkan manusia ke arah keimanan kepada dasar-dasar agama dan aqidahnya, komitmen terhadap etika Islam dan mengamalkan hukum-hukumNya, serta menjelaskan makna ayat maupun hadith. Sementara seorang da’i bertugas menuntun kaum muslimin mencapai tujuan Islam dan risalahnya yang mendunia guna menyelamatkan umat manusia dan membebaskannya dan penghambaan kepada selain Allah.

Dua karakter da’i: cerdas akalnya dan bersih hatinya. Dalam diri para pemuda muslim terdapat kekuatan yang luar biasa. Bila mereka diberi kesempatan untuk berkreasi niscaya akan mampu mengubah kondisi umat menjadi bebas, adil, dan berwibawa. Dan hal ini akan menjadi kekuatan besar yang mampu menghancurkan.

Hormatilah tokoh masayarakat, incar dan dekati.

Akhlak lebih utama daripada keahlian. Cinta karena Allah adalah pintu menuju hati. Keindahan adalah bahasa hati. Gunakan sarana tarbiyah yang menyenangkan hati. Jadilah saudara yang hangat: menarik, simpatik, dan ceria.

Bila berdebat, da’i harus dapat menyimpulkan pembicaraan bila telah tampak jelas mana “benang putih” dan mana pula “benang hitam”nya. Sebab, perdebatan yang tidak menghasilkan kesepakatan dan tanpa kata akhir dapat menumbuhkan kebencian dalam jiwa, mengotori dan menutupinya, serta merusak rasa cinta kasih. Para da’i seharusnya menghindari sikap ekstrem dan berlebih-lebihan dalam persoalan agama.

Bila para ulama dan para pemimpin adalah orang yang shalih maka akan baiklah seluruh umat. Sebaliknya, biia mereka rusak maka rusaklah seluruh umat, walaupun di tengah mereka ada ribuan orang shalih. Mengapa? Karena mereka adalah panutan. Ulama adalah pemegang kendali kata-kata, sedangkan pemimpin adalah pemegang kendali tindakan.

Dakwah tidak seperti air yang dapat diminum sekali teguk. Namun ia merupakan terapi yang harus disuguhkan dengan ilmu, seni, dan waktu.

Sibukkan para pemuda dengan hal-hal yang bermanfaat, yang dapat membangun optimisme jiwanya, mengisi kekosongan perasaannya, dan memuaskan kesenangannya, seperti berolahraga. Juga kegiatan persahabatan antara pemuda yang dapat mengokohkan ikatan keluarga dan sosial, serta dapat menumbuhkan perasaan cinta, ingin bertemu, berkenalan, dan bekerja sama dengan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s