Faith bargaining crisis


Kadang kita tak merasakan lagi sesuatu yang dulu membuat merasa lebih bermanfaat. Merasa lebih hidup sebagai orang hidup. Jawabannya myngkin kini kita melakukan amalan yang membuat kita bisa ‘memaksa’ diri memberi seoptimal mungkin seluruh potensi diri. Lelah tapi hatinya tak berkontribusi. Keimanan tak dapat posisi: Faith bargaining crisis .

Amalan terbaik yang melibatkan hati, sigenap potensi ruhiyah, fikriah, jasadiah, dan orientasinya adalah kepentingan orang banyak, adalah bentuk kebaikan yang terbaik. Mungkin ini yang hilang.

Barangkali ada yang merasa demikian? Hampa atas aktivitas kita, apapun itu.coba kita koreksi:

-karena apa kita melakukannya?

-untuk siapa/apa kita mengerjakannya?

-apa yang telah kita beri demi memaksimalkan hasil aktivitas tersebut?

Siapa yang tak mengejar kesempurnaan? Semua berlomba menujunya. Sebab itu, selalu ada kompetisi kebaikan. Namun kesempurnaan punya prasyaratnya sendiri kawan. Ia ingin setidaknya dua hal saja: niat yang benar dan sebernilai apa yang kita beri demi kesempurnaan itu.

Maka Tak ada ceritanya juga masuk surga tanpa hisab itu untuk yang mati perang, tapi jelas hanya bagi yang SYAHID dalam perang.

Tak ada ceritanya juga muslimin langsung gembira ria di madinah, tapi mesti menjajaki perih belasan tahun di Mekkah.

Kita juga disuruh meminta surga tertinggi bukan? Bukan sura pinggiran. Apalagi yang mepet-mepet neraka😛.

Tak ada ceritanya juga surga dibawah telapak kaki wanita, tapi IBU.

Dan tak ada istilah penghafal surat, tapi penghafal Qur’an. Yang berarti memang menyisipkan ribuan ayat itu di 95% memori otak yang ‘nganggur’adalah salah satu bentuk kesempurnaan interaksi dengan Qur’an.

Dan tentunya banyak isyarat kesempurnaan lain yang bertebaran dalam Qur’an juga perilaku Rasulullah saw.


Saling mengingatkan dalam kebaikan (QS. Al Ashr:3). Salah satu 10 wasiat Hasan Al Banna, Kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang tersedia (Al Wajibatu Aktsar Minal Awqat ) maka tolonglah saudaramu untuk memanfaatkan waktunya,dan apabila kalian punya keperluan maka sederhanakanlah dan cepatlah diselesaikan. Maka apabila engkau telah selesai dari sesuatu urusan , bersungguh-sungguhlah untuk urusan yang lain (QS. AL Insyirah :7). memang nikmatnya berjamaah, ada yang mengingatkan. terimakasih, hanya Allah yang bisa membalasnya ^_^

Maka, ikhwah! Kita kejar-mengejar menuju poin-poin kebajikan. Lalu kita sempurnakan. Dengan demikian, batas kesempurnaan itu tidak akan pernah ada. Atau lebih tepatnya, batas kesempurnaan itu akan selalu meninggi seiring makin banyak, makin bernilai, makin kita CINTAI apa yang kita beri. Semangat berkontribusi!

Amalan terbaik yang melibatkan hati, sigenap potensi ruhiyah, fikriah, jasadiah, dan orientasinya adalah kepentingan orang banyak, adalah bentuk kebaikan yang terbaik. Mungkin ini yang hilang.

Barangkali ada yang merasa demikian? Hampa atas aktivitas kita, apapun itu.coba kita koreksi:

-karena apa kita melakukannya?

-untuk siapa/apa kita mengerjakannya?

-apa yang telah kita beri demi memaksimalkan hasil aktivitas tersebut?

Siapa yang tak mengejar kesempurnaan? Semua berlomba menujunya. Sebab itu, selalu ada kompetisi kebaikan. Namun kesempurnaan punya prasyaratnya sendiri kawan. Ia ingin setidaknya dua hal saja: niat yang benar dan sebernilai apa yang kita beri demi kesempurnaan itu.

Maka Tak ada ceritanya juga masuk surga tanpa hisab itu untuk yang mati perang, tapi jelas hanya bagi yang SYAHID dalam perang.

Tak ada ceritanya juga muslimin langsung gembira ria di madinah, tapi mesti menjajaki perih belasan tahun di Mekkah.

Kita juga disuruh meminta surga tertinggi bukan? Bukan sura pinggiran. Apalagi yang mepet-mepet neraka😛.

Tak ada ceritanya juga surga dibawah telapak kaki wanita, tapi IBU.

Dan tak ada istilah penghafal surat, tapi penghafal Qur’an. Yang berarti memang menyisipkan ribuan ayat itu di 95% memori otak yang ‘nganggur’adalah salah satu bentuk kesempurnaan interaksi dengan Qur’an.

Dan tentunya banyak isyarat kesempurnaan lain yang bertebaran dalam Qur’an juga perilaku Rasulullah saw.


Saling mengingatkan dalam kebaikan (QS. Al Ashr:3). Salah satu 10 wasiat Hasan Al Banna, Kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang tersedia (Al Wajibatu Aktsar Minal Awqat ) maka tolonglah saudaramu untuk memanfaatkan waktunya,dan apabila kalian punya keperluan maka sederhanakanlah dan cepatlah diselesaikan. Maka apabila engkau telah selesai dari sesuatu urusan , bersungguh-sungguhlah untuk urusan yang lain (QS. AL Insyirah :7). memang nikmatnya berjamaah, ada yang mengingatkan. terimakasih, hanya Allah yang bisa membalasnya ^_^

Maka, ikhwah! Kita kejar-mengejar menuju poin-poin kebajikan. Lalu kita sempurnakan. Dengan demikian, batas kesempurnaan itu tidak akan pernah ada. Atau lebih tepatnya, batas kesempurnaan itu akan selalu meninggi seiring makin banyak, makin bernilai, makin kita CINTAI apa yang kita beri. Semangat berkontribusi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s