Rectoverso – Dewi Lestari


rectoverso2-800x600

SARAS: Ih, pahit! Kok bisa sih minum kopi gak manis gini? ,BRAM: Soalnya kalo kita minum yang pahit, kita jadi inget kalo di luar sana ada yang manis.(Penggalan dialog dalam “Cicak di Dinding”, bagian dari omnibus film “Rectoverso”)

Kadang – kadang pilihan yang terbaik adalah menerima…
“Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir.”
To him, I might be a unique blend of lowbrow jokes and complicated quantum theories. To him, I might be the perfect friend. But deep down, I’m just in love.
Dia bukanlah pembicaraan. Dia adalah tujuan. Tujuanku bertahan.

Akan kuselundupkan tiga perempat jiwaku untuk merasukinya, membaca pikirannya, memata-matai perasaannya. “Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta”

Aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja.

Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah kumiliki keutuhannya.

Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar.

Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan.

Kalau sampai ia berbalik, niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.

Aku hanya ingin kembali ke tempatku, di belakang sana. Menikmati apa yang kusanggup.

Nikmati bayangmu. Itulah saja cara yg bisa untuk ku menghayatimu, untuk mencintaimu.

Sesaat dunia jadi tiada, hanya diriku yang mengamatimu, dan dirimu yang jauh di sana.

Ku tak kan bisa lindungi hati. Jangan pernah kau tatapkan wajahmu. Bantulah aku semampumu.

Rasakanlah isyarat yang sanggup kau rasa tanpa perlu kau sentuh.

Rasakanlah harapan, impian, yang hidup hanya untuk sekejap.

Rasakanlah langit, hujan, detak, hangat napasku.

Rasakanlah isyarat yang sanggup kau tangkap tanpa perlu kuucap.

Rasakanlah ruang, waktu, puisi. Itulah saja cara yang bisa utk ku menghayatimu. Untuk mencintaimu

-Hanya Isyarat

“Dunia tidak lagi sama. Hidup ini menjadi asing. Aku sedih untuk sesuatu yang tak kutahu. Aku galau untuk sesuatu yang tak ada. Dan jari ini ingin menunjuk sesuatu yang bisa menjadi sebab, tapi tak kutemukan apa-apa. Pada saat yang sama, seluruh sel tubuhku berkata lain. Mereka tahu sesuatu yang tak dapat digapai pikiran. Apa rasanya, jika tubuhmu sendiri menyimpan rahasia darimu?” —Firasat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s