Mama


Terhitung sejak 3 November 1997, mama meninggalkan dunia ini. Usia saya belum juga sepuluh tahun, masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Hari itu pembagian raport sekolah, hari senin, seharusnya mama datang mengambil raportku. Pasti mama bangga, karena aku juara kelas, rangking pertama. Semenjak kelas empat sampai lulus Sekolah Dasar, aku juara kelas🙂 Terima kasih mama, sudah menjadikan aku anak yang juara. Mama mengajarkan banyak hal, aku sangat kehilangan mama😥 Bayangkan betapa beratnya menjadi diriku, anak perempuan semata wayang di rumah. Kedua kakak dan seorang adikku semuanya laki-laki. Aku tumbuh menjadi seorang gadis remaja sendiri, tanpa mama. Mungkin yang lain asyik bercerita dengan mama mereka tentang masa-masa pubernya, bagaimana mendapat haidh pertama kali? atau bagaimana jatuh cinta pada seorang laki-laki?

Aku ingin menjadi juara lagi, ma. Banyak prestasi, tapi sulit. Hampa, tak ada yang membantu atau menyemangati lagi. Menjadi juara kelas bukan hal yang mudah, suatu hari nilai ulangan matematika aku “0 (nol)” , salah semua. Masih membekas dalam ingatan,

“kok bisa dapat nol Mba Iti?” Mba Iti panggilan kesayangan di rumah. Mungkin karena susah melafalkan fitri, untuk adik aku saat itu. Mungkin. Entahlah.

“Gak tau mah, udah ngerjain. tapi gak ngerti. gak bisa ” kurang lebih jawabnya seperti itu. lupa.

Dan entah bagaimana caranya, yang jelas mama setiap hari menemani mengerjakan pekerjaan rumah, belajar sehingga bisa dapat nilai sempurna. Bahkan setiap ulangan, duduk di meja guru. Entah apa maksudnya, takut hasil juara kelas itu karena nyontek kali yaa🙂

Mama, terima kasih sudah menjadi ibu yang baik untukku. Surga untukmu. Aku ingin menjadi ibu seperti mama. Tak lupa juga mengajarkan agama untuk anak-anaknya,

Ingat saat belajar wudhu, dulu masih pompa tangan. Mama mompa air, sambil aku cerewet bertanya.

“ma, abis tangan mulut kan ya?”

“iya ,  idung trus muka ”

Begitulah percakapan sampai selesai wudhu, sampai aku ingat urutan-urutan wudhu. Saat aku belum hafal bacaan dan  urutan gerakan shalat pun begitu.

“Nanti liat gerakan mama shalat, kalau ada yang belum hafal bacaannya “bismillah” aja sampe selesai”

Memang tidak terlahir dari keluarga yang sangat religius, tapi terhindar dari kemaksiatan, insya Allah.

Mama, aku ingin menjadi shalehah. Agar kebaikan selalu ada padamu, meski sudah tidak bersama lagi. Kadang merasa iri, dengan kawan-kawan yang masih utuh keluarganya. Harus yakin, Allah punya jalan sendiri untuk mendewasakan hamba-hamba-Nya. Bahkan bisa jadi diri ini terlihat tegar di hadapan umum. Tak ada yang tahu kalau ternyata sudah tidak memiliki mama. Sebenarnya rapuh, tapi masa cengeng dilihat orang banyak? Kalau mau cengeng , waktu sendiri saja.

Aku belum lulus kuliah ma, kalau ada mama pasti lebih ada yang perhatian yaa…. Ada yang marahin tiap hari, pasti juga gak boleh sibuk-sibuk organisasi. Kangen mama aja, karena sebesar apapun berkorban untuk sesuatu, pasti akan kembali ke keluarga juga.

Pekan lalu, aku berkunjung ke makam mama. Baru berdiri di depannya saja, sudah mengalir air mata ini. Semoga Allah selalu memberikan mama nikmat kubur, mengirimkan angin kesejukan .

Mama,

i miss u😥

i love u…. semoga bisa berkumpul di jannahNya

 

1176389_3455209155644_1107954220_n

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s