99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa by Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra


Image

“Wahai anakku! dunia ini bagaikan samudera tempat banyak ciptaan-ciptaaNya yg tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dg menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nakhoda perjalannanmu dan sabar sebagai jangkar dlm setiap badai dan cobaan (Ali bin Abi thalib ra)”

“Ilmu pengetahuan itu pahit pada awalnya, tetapi manis melebihi madu pada akhirnya”

“Esensi sejarah bukanlah hanya siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih dari itu: siapa yang lebih cepat belajar dari kemenangan dan kekalahan”

“Pergilah, jelajahilah dunia, lihatlah dan carilah kebenaran dan rahasia – rahasia hidup ; niscaya jalan apa pun yang kaupilih akan mengantarkanku menuju titik awal”

“Mengalah itu tidak kalah, melainkan menang secara hakiki”

“Tentang kopi kesukaanmu, cappucino, kopi itu bukan dari italia. Aslinya berasal dari biji-biji kopi Turki yang tertinggal di medan perang di Kahlenberg. Hanya sebuah info pengetahuan kecil-kecilan. Assalamu’alaikum” — Fatma, 99 Cahaya di Langit Eropa hal. 50”

 

Dalam museum Louvre, Paris, di salah satu lukisan Bunda Maria dan bayi Yesus, di bagian hijabnya, terdapat inskripsi arab yang bertuliskan “la ila ha Ilallah.

Axe historique…garis imajiner yang membelah kota Paris bernama lain “voie triomphale” yang berarti jalan kemenangan dibuat Napoleon, mengarah Mekkah / kiblat.

Dua informasi tersebut dalam novel ini cukup mengagetkan bagiku. Dan masih banyak informasi baru yang kudapat di dalam novel ini. Misteri peradaban Islam yang pernah mencoba mencapai seluruh eropa. Inilah bagian yang menjadi daya tarik novel ini,dan membuat rasa ingin tahu lebih banyak lagi untuk menyingkap misteri tersebut.
Novel yang membuat ingin tahu.

Hmm…kalau disebut novel, sebenarnya kurang tepat. Alurnya datar sekali. Konfliknya hanya ketika secara mendadak hubungan si penulis Hanum dan temannya fatma terputus. Perjalanan novel ini dilatari oleh cita-cita bersama Fatma dan Hanum mengunjungi jejak sejarah Islam di eropa. Namun kenyataan berkehendak lain. Hanya Hanum yang akhirnya mendapatkan kesempatan dan kemudian menuliskan kisah ini.

Novel perjalanan, ini sebenarnya seperti kisah di blog. Mungkin sengaja di kemas seperti novel agar lebih ringan dan menarik untuk menyampaikan pesan penulis, daripada dikemas dalam bentuk kisah perjalanan semata. Atau mungkin si penulis lebih nyaman menuliskannya dalam bentuk novel.

Saya suka novel ini. Pasalnya belakangan ini ada kecenderungan kelompok tertentu dalam Islam yang getol mengungkit-ungkit sejarah perang salib. Dan kecenderungan pengungkitan sejarah itu adalah untuk tujuan membangkitkan rasa perih luka dan dendam. Provokatif. Saya menyebutnya Islam Kebencian. Syukurlah dengan hadirnya novel ini paling tidak menjadi penyeimbang informasi sejarah. Toh sejarah bukanlah untuk menentukan siapa yang salah dan benar, tapi mengutip hikmah dan semangat pembelajaran untuk menjadi lebih baik.

Ada pemikiranku yang semakin hadir setelah membaca novel ini. Perang salib terjadi dimana ada perbedaan tingkat peradaban yang cukup mencolok. Islam pada masa kegemilangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan Eropa dalam zaman kegelapan. Zaman kegelapan yaitu dimana doktrin agama dipahami secara taklid buta. Ilmu pengetahuan tak dapat berkembang. Surga jadi alat tukar lembaga agama,dijadikan jaminan jika mati dalam membunuh muslim.

Nah….kondisi yang sebaliknya justru sedang terjadi. Dalam Islam juga ada janji imbalan 70 bidadari di surga jika mati dalam perang. Beberapa kali terucap dalam rekaman video pelaku bom bunuh diri di negeri ini. Perang cenderung ditafsirkan sebagai perang melawan agama/suku lain, dan bukannya perang melawan hawa nafsu.
Hawa nafsu kekuasaan, amarah, sakit hati masa lalu di kobar-kobarkan dan dipoles dengan topeng suci bernama “Jihad”. Doktrin jihad yang bekal utama memahami Al-Quran. Kelompok tertentu malah melarang membaca buku, kecuali buku golongannya sendiri. Karena inilah menurutku, Umat Islam sedang dalam jaman kegelapannya. Dan perang salib wajah baru sedang berulang kembali. Dengan posisi peradaban yang sebaliknya.

Takluk menaklukkan itu tidak pernah ada kaitannya dengan kesucian agama. Perang Salib sesungguhnya adalah perang penaklukan daerah, bukan perang agama. Karenanya, meskipun perang, tetapi tetap terjadi interaksi pertukaran budaya, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kemanusiaan selama perang ini terjadi dan kemudian memberikan terhadap kebudayaan selanjutnya. Sayangnya, hingga saat ini permusuhan antar agama tetap langgeng sebagai efek daya jual perang ini.

Perjalanan Hanum ternyata kemudian mengantarkannya bertamu ke Baitullah, Mekkah di akhir novel ini. Seolah novel ini menyampaikan ada pesan yang tersirat, Hidup adalah perjalanan menuju sang Pencipta. Sudahkah pencarian kita dalam hidup ini telah menemukan jalan tersebut?. Menemukan Sirhotol Mustaqim?. Semoga…Amien (P)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s