Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim – Salim A. Fillah


saksikanlah-bahwa-aku-seorang-muslim-prou

Menjadi muslim adalah menjadi kain putih. Lalu Allah mencelupnya menjadi warna ketegasan, kesejukan, keceriaan, dan cinta; rahmat bagi semesta alam. Aku jadi rindu pada pelangi itu, pelangi yang memancarkan celupan warna Ilahi. Telah tiba saatnya, derai berkilau Islam tak lagi terpisahkan dari pendar menawan seorang muslim.

“Saudaraku, ini giliran kita. Kita muslim sejati, yang selalu mengajak semua manusia kembali pada kebenaran fitrah, tapi kalau mereka berpaling, cukup katakan dengan bangga dan penuh kemuliaan bahwa kita adalah muslim.

Seribu, seratus, sepuluh, ataupun sesatu, muslim sejati takkan pernah ragu untuk berkata, “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim!” … ” – Muslim, hlmn. 77

—-

“Dalam keseharian, seorang muslim harus memiliki karakter dan identitas. Bahkan juga penampilan yang berbeda dengan kaum-kaum yang terhukumi jahiliah. Bukan kerana Islam bersifat eksklusif dan elitis. Tetapi Islam adalah sistem menyeluruh yang ingin menjadikan revolusi diri para pemeluknya kaffah. Ada jaminan perlindungan, kebanggan identitas dan keterakuan bagi yang baru memasuki. Ada ketertarikan atas keunikannya bagi orang yang terpesona.

Setiap orang kafir, kata Ibnu Taimiyah, akan gembira jika tatacara dan seleranya diikuti. Mereka akan bangga. Dan kebanggaan itu akan terbawa dalam pola pikir, konsep hidup, dan cara pandangnya terhadap segala sesuatu. Kalau itu terjadi alangkah kasihan mereka. Karena mereka akan bangga selalu berada dalam kesesatan…. ” – Perpisahan, hlm. 86-88

—-

“Keimanan benar-benar telah mengikat hati para hamba Allah dalam kasih sayang yang menggetarkan.

Ada sebuah kalimat Rasulullah yang membuat hati Anas ibn Malik begitu tenteram berbunga-bunga. Yakni kalimat bahwa seseorang akan bisa berharap untuk membersamai Rasulullah, Abu Bakar, dan ‘Umar di surga nanti. Karena, meski amalanku tak sebaik amalan mereka, tetapi aku sangat mencintai mereka…” Ah indahnya. Siapa yang kau cintai saudaraku?

Siapkah hati, jiwa, raga, dan harta kita untuk bersaudara?
Siapkah mata, telinga, lisan dan tangan kita untuk bersaudara?

Kebersamaan dalam ikatan aqidah akan mengikrarkan sebuah perjuangan untuk menegakkan aqidah itu. Tiada kemuliaan tanpa perjuangan. Wahai pejuang, perjuangan pertama yang harus kau tegakkan adalah melawan nafsu diri agar mampu bersabar dalam kebersamaan!

Dalam perjuangan itu, musnah segala khawatir dan takut. Hilang gelisah, resah dan kalut. Karena kebersamaan yang kita ukir begitu meneguhkan. Kebersamaan yang menyandarkan kekuatannya kepada Allah…. ” – Kebersamaan, hlmn. 89-93

—-

“Semoga ada wajah-wajah yang tak pernah mengajak kita menggunjing, memfitnah, dan sibuk dengan aib orang. Betapa ingin kita disambut di majelis mereka, dengan ucapan, “Akhi…ta’ala nu’minu sa’ah..saudaraku, mari sejenak kita beriman!” dan kita diterbangkan ke tempat yang dinaungi sayap malaikat

Kita rindu bersua dengan wajah-wajah ini dalam perjalanan. Bukankah kita belum saling kenal dan baru kali ini bertatap muka? Tapi rasanya sudah akrab, dan lisan tak tahan untuk segera melempar senyum dan beruluk salam.

Inilah dia, wajah-wajah keimanan. Yang digambarkan Rasulullah yang satu menjadi cermin yang lain. Ada inspirasi shalih saat memandangnya dan energi isi ulang melihat keteduhannya.. SubhanaAllah.

Betapa kita merindu wajah-wajah keimanan. Wajah-wajah itu, adalah wajah-wajah saudara kita di jalan Allah.” – Afiliasi, hlmn. 140

—-

“Betapa rindu kita pada pemimpin yang bisa menangis. Minimal menangis. Karena cinta. Pemimpin yang sadar bahwa ia akan ditanya dan diminta bertanggungjawab atas jutaan pengangguran, mliyaran kasus kriminalitas, jatuhnya moral remaja, dan perempatan jalan yang penuh peminta. Minimal sadar. Karena cinta. Ia seperti kata Nabi, “Mencintai kalian, dan kalian pun mencintainya.” Dan cinta itu, akan mengangkatnya dari kungkungan batas-batas kemanusiaannya untuk berbuat lebih. Karena cinta itu membuatnya tak sendiri, tetapi rakyat membersamainya. Jika ruhnya saling mengenal dengan ruh rakyatnya, saat itulah nyala bertemu sumbu, dan kerja-kerja menjadi api yang mengkinesi potensi. Dan Allah menghujankan air barakah, dan menumbuhkan pohon thayyibah.

Saudaraku, adakah rindu kita ada di lembah hijau yang sama? ” – Afiliasi, hlmn. 144-145

—-

“Maka niat adalah pijak pertama yang menggores tanya, “Akankah ada barakah dalam pernikahan kita?”

Niat ketika menyaksikan kondisi keluarganya. Niat ketika menentukan mahar dan persyaratan. Niat ketika menyatakan persetujuan dan penerimaan. Niat ketika merencanakan hari akad dan perayaan walimah. Niat selama dalam masa penantian. Niat dan niat, ketika dan ketika..

Niat ketika mengucapkan ijab dan qabul. Niat di saat menerima ucapan selamat dan doa. Niat di waktu menjamu tamu. Niat di waktu menjamu tamu. Niat di saat para tamu meninggalkan tempat. Niat ketika mengucap salam dan mengetuk pintu kamar. Niat ketika berjemaah dua rakaat pertama kalinya.

Pada engkau yang belum menikah, katakan padaku saat kau rasa nikmatnya pandangan pertama, apa yang terbit di ufuk hatimu? Sudahkah engkau bersegera menunjuk dada dan bertanya, “Akankah ada barakah dalam pernikahan kita?” – Nomor Dua, hlmn. 218-219

—-

“Kita begitu rindu masyarakat imani, masyarakat yang membuat kita selalu ingin berada di tengah mereka. Hanya ini masyarakat yang membuat kita merasa aman dari lisan dan tangan mereka. Alangkah tenteram berada di tengah mereka. Serasa, masyarakat ini adalah masyarakat surgawi, dan tetangga-tetangga ini kita doakan menjadi tetangga di surga nanti.

Memang sulit mencari, tetapi alangkah indahnya memulai dari diri sendiri. Jika keluarga kita dibangun di atas peribadahan kepada Allah, maka juluran-juluran rantingnya adalah da’wah ilallah. Di manapun bumi tempatmu berpijak, kata Umar ibn Al Khattab kepada sahabatnya yang berangkat menunaikan tugas, keislamannya adalah kewajibanmu. Maka adakah tercantum di dalam visi dan mis pernikahan kita sebuah kata yang berat timbangannya di sisi Allah; da’wah? ….. ” – Tetangga, hlmn. 284-285

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s