Genap


Apa kamu bilang? Kamu masih berharap sama seseorang yang enggan untuk memperjuangkan kamu? Oh my god, are you kidding me? Coba deh pikirin lagi, kamu akan menghabiskan sisa hidup kamu bersama pasangan kamu, sampai tua, sampai habis sisa usia. Kalian akan berjuang bersama-sama membangun rumah tangga, membangun keluarga yang bahagia. Kalau sekarang dia enggak mau berjuang untuk menggenapi kamu, gimana nanti kalau kalian sudah menggenap? Kamu mau cuma berjuang sendirian? Emang kuat kalau selamanya kayak gitu?

Let me tell you this, Dear:
Menggenap itu bukan hanya perkara memperjuangkan cinta, tapi yang lebih penting adalah memperjuangkan masa depan dunia dan akhirat kita. Jangan sampe karena yang pertama, kamu kehilangan yang kedua.

“Apakah kamu sudah bisa menjadi tempatnya pulang, menumpahkan segala rasa? Apakah kamu sudah bisa menjadi orang yang paling mengerti dan memahaminya? Apakah kamu sudah menjadi orang yang paling menerimanya?”

“Hmmm, sepertinya sudah.”

“Hehe, sayangnya jawaban paling tepatnya bukan ada di kamu. Tapi ada di pasangan kamu. Karena dia yang merasakan. Dia yang berhak menilai. Bukannya kamu.”

“Hmmm..”

“Come on, Dear. Tell him about that. Cari tahu, pastikan. Karena tugas kita bukanlah menjadi isteri terbaik di dunia. Tugas kita hanyalah memastikan, kalau suami kita memiliki isteri yang baik, isteri yang layak untuk mendapatkan ridho suami.”

Adakah yang lebih menyebalkan selain jarak, bagi sepasang manusia yang saling menggenapi? Jarak yang memisahkan ribuan kilometer jauhnya, jarak yang membuat dua pasang mata tak bisa bertatapan, jarak yang membuat dua tangan tak bisa saling menggenggam. Jarak yang menyadarkan, bahwa aku selalu ingin pulang kepadamu.

Maaf jika ini terlambat, tapi di sini, ribuan kilometer darimu, aku cuma ingin bilang;

Terimakasih karena selama ini selalu bisa jadi tempat untukku pulang. Tempat dimana aku bisa jadi diriku sendiri, tanpa beban, tanpa penghalang, lepas, apa adanya.

And you know what? I miss my home, I miss my self, and I miss you.

Camkan ini baik-baik, Sayang. Pegang prinsip ini kuat-kuat. Ingatlah selalu saat semangat kamu menurun, saat kamu lelah melalui semuanya, saat kamu bosan menghadapi rutinitas;

“Hidup kamu, bukan tentang diri sendiri lagi. Pasangan kamu, anak-anak kamu, berhak atas diri kamu yang lebih baik lagi.”

Isteri yang baik akan bersedia hidup susah dengan suaminya. Tapi suami yang baik, tidak akan membiarkan isterinya hidup susah bersamanya. Itulah salah satu inti menggenap, Sayang; semangat untuk berlomba-lomba memberikan yang terbaik bagi pasangannya.

Kita memang tak pernah tahu siapa ditakdirkan untuk siapa, tapi takdir tak selalu berupa intervensi Tuhan terhadap makhlukNya. Ada juga takdir yang disebut dengan sunatullah, takdir berupa hasil dari apa yang kita usahakan. Siapa jodoh kita memang sudah tercatat rapi di lauhul mahfudz sana, tapi bagaimana seseorang sampai pada jodohnya tentu saja tergantung dari usahanya. Jika belum sampai, mungkin itu adalah kode, kalau ada sunatullah yang belum dipenuhi, ada ikhtiar yang masih belum disempurnakan, ada doa yang tak sempat dilantunkan. Bahkan jika merasa segala upaya sudah dicoba, tapi tak kunjung jua sampai pada jodohnya; tetaplah berusaha dan berdoa. Jangan khawatir, karena ada pahala dalam setiap doa dan usaha, ada sederet kesabaran dalam proses menunggu, ada kekuatan yang tersembunyi dibalik ujian. Tetaplah berusaha, Sayang. Sambil menyerahkan segala urusan pada-Nya, maka yang terbaik akan datang dalam kehidupan kita. Entah itu urusan jodoh, atau yang lainnya.

-NA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s