Tips Menghafal dan Muroja’ah Quran Metode Thaif Kerajaan Saudi


1. Mulai segala sesuatunya dengan niat yang ikhlas mengharap ridha Allah sepenuhnya.

2. Mengahadap ke dinding atau pembatas pandangan lainnya yang berlatar polos. Hal ini dimaksudkan agar kita fokus untuk menghafal.

3. Tinggalkan segala sesuatu yang menghalangi atau menganggu kita dalam proses menghafal Alquran. Gangguan tersebut misalnya gadget, surat kabar, isteri, dan sebagainya

4. Menganggap diri bahwa dalam keadaan seperti itulah kita akan membaca Alquran di hadapan Allah di Hari Akhir kelak.

5. Memperhatikan dan membaca dengan seksama 3 ayat awal. Dengan sebenar-benarnya memperhatikan, baik dari segi maknanya, hukum bacaannya, tata letaknya, dsb. Silakan dibaca 3 kali seperti keadaan tersebut. Kemudian angkat kepala, tutup mata atau hadapkan kepala ke dinding polos tadi, baca ayat pertama 3 kali atau sampai lengket, begitupun ayat kedua. Setelah itu, ulangi ayat 1 dan 2 (silakan baca dahulu atau langsung hafalkan). Kemudian begitupun ayat ke-3 dengan proses yang sama.

6. Alquran jangan pernah diganti-ganti. Silakan beli mushaf Alquran yang sama, taruh di kamar satu, di tas satu, di kendaraan satu, di masjid satu, dan di tempat-tempat yang menjadi kebiasaan kita membaca Alquran. Atau paling tidak, kita harus konsisten menggunakan mushaf yang sama di mana pun kita hendak menghafal atau memuroja’ahnya.

7. Harus segera disetor. Kita harus mencari orang yang kita anggap fasih dalam membaca Alquran beserta hukum-hukum bacaanya. Bahkan kalau perlu orang yang sudah hafidz 30 juz dan telah mendapatkan sanad hafalan. Silakan bawa pensil, kemudian beritahu kepada orang yang kita tempati menyetor agar menggarisbawahi ayat yang salah ketika kita membacanya. Tujuannya ialah agar kita semakin mengingat letak kesalahan kita dalam menghafal sehingga tidak mengulangnya lagi.

8. Mencari suasana, waktu, dan tempat yang pas untuk menghafal Alquran. Tentu berbeda ketika kita menghafal dalam keadaan tenang pada waktu sepertiga malam, setelah salat subuh, atau salat magrib di masjid pula daripada kita menghafal pada saat hati sedang gunda gulana galau gelisa pada waktu teriknya siang di dalam pasar pula. Intinya, silakan cari suasana, waktu, dan tempat yang nyaman menurut kita untuk menghafal Alquran. Ada baiknya juga kita ke tempat menghafal Alquran (Tahfidzul Qur’an) terdekat. Hal ini bertujuan untuk memacu semangat dan adrenalin kita karena kita punya teman menghafal sekaligus saingan dalam menyetor hafalan.

9. Ada tim pengawas dengan membuat kelompok menghafal. Maksudnya supaya ada yang mengontrol sehingga pada waktu yang seharusnya kita menghafal tidak kita gunakan untuk bercerita dengan tema tanpa makna.

10. Suara harus keluar. Hal ini bertujuan agar kita juga menggunakan kemampuan audio (pendengaran) kita sehingga proses menghafal menjadi lebih maksimal bukan semata-mata menjadikan kemampuan visual (penglihatan) sebagai senjata kita dalam mengahafal.

11. BAGILAH dua waktu dalam sehari. Satu waktu untuk menghafal, satu waktu untuk memuroja’ah. Semisal pada waktu subuh setelah salat kita menghafal sedangkan muroja’ahnya setelah habis salat magrib. Silakan cari waktu yang nyaman dan sesuai dengan aktivitas kita karena tidak setiap orang memiliki jadwal penggunaan waktu yang sama dalam 24 jam. Ingat, kita harus konsisten dengan 2 waktu yang telah kita pilih!

12. Bagilah jumlah hafalan kita dengan 6 hari (1 hari libur). Semisal, kita sudah punya hafalan 6 juz maka kita bagi 6 hari menjadi 1 juz 1 hari dalam memuroja’ah hafalan. Begitupun bila ketika kita telah menghafal 30 juz maka bagi menjadi 6 hari menjadi 5 juz 1 hari dalam memuroja’ah hafalan. Ini dilakukan selama 3 tahun pertama bagi yang telah hafidz 30 juz. Setelah 3 tahun memuroja’ah hafalan seperti itu, maka cukup memuroja’ah 1juz 1 hari di bilangan-bilangan hari di depannya.

Apabila benar-benar tak sanggup memuroja’ah hafalan dalam sehari, maka minimal dibaca saja.

13. Satu hari digunakan untuk refreshing atau rihlah seperti mendaki gunung, hadir di majelis taklim, berlatih memanah, berlatih belah diri, berenang di laut, main bola, atau pergi ke tempat-tempat tertentu dan melakukan hal yang menjadi kesenangan kita tanpa melanggar syariat dan mengatarkan kepada perbuatan yang sia-sia. Hal ini bertujuan agar hati dan pikiran tidak terbebani secara berlebihan dengan aktivitas yang majemuk, jenuh, dan terkadangan membuat kita stres berlebihan.

Sumber: IslamPos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s